RADAR JOGJA Pertunjukan tradisional ketoprak tobong asal Sleman seakan mati suri. Kini, ceritanya sukses dijadikan film layar lebar yang disebut sebagai folklore cinema dengan judul Ati Segara.

Mitra Seni Indonesia (MSI) sebagai wadah pemerhati dan pencinta seni mendukung Kelompok Seni Pertunjukan tradisional yang terhenti kegiatannya akibat Pandemi Covid 19. MSI pun bekerja sama dengan Ketoprak Tobong Kelana Bakti Budaya Sleman.

Pagelaran Amal Ketoprak Tobong yang diprakarsai Mitra Seni Indonesia ini mengambil cerita Ati Segara (Hati Samudra), dengan sutradara dan sekaligus penulis naskah Risang Yuwono.

Risang yang memiliki latar belakang di bidang film dan photography mencoba mentransformasikan cerita pertunjukan tradisional ketoprak kedalam bentuk Layar Lebar yang disebutnya sebagai Folklore Cinema.

Karya dikemas secara kreatif dan menarik dengan pemain yang terdiri dari para seniman, artis daerah Jogjakarta dan Solo.

Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi  Hilmar Farid pada acara Focus group diskusi / FGD Mitra Seni Indonesia secara virtual sekaligus Pre launching Ati Segara di Jakarta, Kamis (27/5) mendukung upaya Mitra Seni Indonesia mengangkat kesenian pertunjukan  tradisional tersebut  ditengah Pandemi Covid 19. Hilmar mengapresiasi peremajaan  kesenian tradisional ketoprak tersebut  melalui teknologi digital.

Ketua Umum Mitra Seni Indonesia Sari Ramdani mengatakan, pagelaran Ketoprak tersebut dapat terselenggara sebagai salah satu  hasil dari pengumpulan dana Pagelaran Amal Ludruk Mitra Seni Indonesia Tahun 2020 yang lalu.

“Dari hasil pengumpulan dana tersebut, Mitra Seni Indonesia  juga membantu menggerakan kesenian tradisional lainnya yaitu Sanggar Seni Warisan Makyong dari Riau, KITA ART COMMUNITY dari Gianyar – Bali, Ludruk Irama Budaya Surabaya dan Sanggar Seni Astari Bangka Belitung.

Mitra Seni sebagai wadah pencinta seni berupaya membantu agar kesenian tradisional tersebut dapat terus berproduksi dan bisa terus berkarya,” katanya.

Sementara itu Ketua Panitia Pagelaran Ketoprak Tobong MSI Hesti Indah Kresnarini menjelaskan bahwa karya seni pertunjukan tradisional yang ditransformasiksn kedalam bentuk layar lebar ini, dikemas secara apik dan menarik.

“Memiliki keunikan karena diiringi musik organ dan suling, bukan gamelan sebagaimana lazimnya, sehingga menjadikan Pagelaran ini menarik untuk ditonton,”jelasnya.

Hesti menambahkan, dalam rangka mengembangkan dan meremajakan seni pertunjukan tradisional dalam bentuk layar lebar, maka diselenggarakanlah fokus group diskusi (FGD).

FGD dipandu Maudy Koesnaedi dan dihadiri oleh  tokoh-tokoh dari pemangku kepantingan terkait, yaitu dari pemerintahan, akadenisi,  pemerhati & pencinta seni budaya serta insan  perfilman nasional diantaranya Garin Nugroho, Rama Suprapto, Widyawati, Nungki Kusumastuti.

“Diundnagnya tokoh – tokoh tersebut diharapkan dapat membentuk jejaring dari para pemangku kepentingan untuk mengembangkan seni pertunjukan tradisional dimaksud,”ujarnya.

Ati Segara mengangkat cerita tiga orang wanita yang pernah menorehkan perjuangan pada sejarah bangsa melalui sepotong peristiwa di masa lalu.

Sebuah alasan dari latar belakang tentang begitu dekatnya jarak pendirian Candi Hindu dan Budha, begitu tersembunyinya kekuatan seorang wanita yang mendampingi Raden Mas Said dan begitu dahsyatnya keberanian Pangeran Besar Diponegoro untuk menghentakkan perang Jawa hingga melumpuhkan perekonomian Belanda,  menunjukkan  kekuatan  sosok wanita dibalik ini semua.

Pada hakekatnya cerita Ati Segara ingin mengangkat Harkat Wanita Indonesia, yang mempunyai peranan yang besar pada sejarah masa lampau. Oleh karenanya, dalam rangka memperingati Hari Kartini,  Mitra seni Indonesia menayangan Pagelaran Film yang berdurasi 48 menit tersebut.

Menariknya dari tayangan ini adalah dapat dinikmati dengan sub-title Bahasa Indonesia dan aksara Jawa, sehingga dapat dinikmati lebih banyak pemirsa dan aksara Jawa.

Pagelaran Amal Film Ati Segara ini akan ditayangkan melalui Kanal Youtube Mitra Seni Indonesia mulai Minggu 30 Mei hingga 13 Juni 2021 pukul 19.00 WIB. Menonton sambil beramal melalui Benih Baik .com.

Selain itu juga akan  ditayangkan tanggal 19 Juni 2021 pukul 20.00-21.00 di Locket exclusive streaming serta tanggal 22 Juni 2021 melalui Genflix Apps (download on playstore applestore )

Hasil Amal dari Pagelaran ini akan disalurkan  kembali kepada Kelompok Seni Pertunjukan Tradisional  yang terhenti kegiatannya  karena Pandemi Covid 19. (om3/sky)

Entertainment