RADAR JOGJA – Jogjakarta  adalah daerah yang menjanjikan bagi perkembangan industri perfilman di Indonesia. Setidaknya sejak lima tahun belakangan produksi film semakin ramai, distribusi-ekshibisi film semakin beragam saluran dan ruang, lalu apresiasi-edukasi-pengarsipan film menjadi bidang yang semakin serius dikembangkan.

Ekosistem perfilman Jogja berjalan dan berkembang sebagai mata rantai sekaligus daur hidup perfilman. Namun, sejak pandemi Covid-19 diumumkan, ekosistem berjalan pincang dan mengalami hambatan.

Salah satu kesempatan untuk kembali menyehatkan ekosistem perfilman di Daerah Istimewa Jogjakarta adalah menyegerakan vaksin massal untuk para pelakunya.

Ribuan pekerja film Jogjakarta dan keluarga menjalani vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Jogja Expo Center, Rabu (7/4).  Vaksinasi massal untuk pelaku perfilman Jogja diinisiasi oleh Jogja Film Commission, Paguyuban Filmmaker Jogja, Hanung Bramantyo, dan direalisasikan bersama Dinas Kesehatan DIJ.

Program ini merupakan lanjutan dari program vaksinasi para seniman yang berlangsung di Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo (PSBK) beberapa waktu lalu. Hanya saja sasarannya lebih spesifik, dari kru hingga ekstras film.

Sutradara kenamaan, Hanung Bramantyo, bertindak sebagai salah satu inisiator. Kala itu dia mengikuti vaksinasi yang dihadiri Presiden Joko Widodo. Hanya saja dia merasa belum semua pekerja film ikut dalam program vaksinasi tersebut.

“Ini ada sekitar lebih dari 1056 orang. Saat ikutan vaksin di padepokan, melihat tidak ada film maker yang hadir. Ada pemain film tapi basicnya pemain teater, yang murni kru film tidak ada disitu. Akhirnya saya matur pak Jokowi ada 2.500 pekerja film, ekstras dan keluarganya mohon dibantu vaksin,” jelasnya ditemui di sela-sela penyuntikan vaksin, Rabu (7/4).

Pasca curhat itu dia juga berbincang dengan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Akhirnya Hanung diminta mengirimkan data pekerja film di Jogjakarta. Untuk kemudian ikut dalam program vaksinasi massal yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan DIJ.

Bersama paguyuban film Jogjakarta dan komisi film daerah, Hanung mengumpulkan data. Dari awalnya 2.500 susut menjadi 1.200 calon penerima vaksin. Setelahnya dilakukan validasi dan hanya 1.056 orang yang terkonfirmasi.

“Ketika registrasi ulang banyak yang tidak membalas, nomernya salah, ilang dalane. Hingga akhirnya data terakhir 1.056. Ini tidak tahu bisa hadir semua atau tidak karena ada yang syuting atau diluar kota,” katanya.

Pasca vaksinasi, dia berharap ada rasa percaya diri yang muncul. Baginya optimisme dari para pekerja film sangatlah penting. Baik para artis maupun kru yang menopang produksi film.

Beragam keresahan juga sempat dia sampaikan kepada Presiden Jokowi. Tak hanya mandeknya produksi perfilman tapi juga sepinya gedung bioskop. Ini karena masih ada keresahan di masyarakat. Terutama untuk datang dan menonton di teater gedung bioskop.

“Dijawab satu-satunya jalan mengembalikan kepercayaan penonton itu vaksin. Penting sekali ini vaksin agar ada rasa percaya diri mendatangi bioskop. Kalau belum wah bahaya ini di gedung 2 jam, kondisi AC, tidak tahu kanan kiri siapa,” ujarnya.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ Berty Murtiningsih memastikan vaksinasi pekerja film bisa rampung dalam sehari. Dinas Kesehatan DIJ, lanjutnya, menerjunkan tim vaksinator. Baik para bidan hingga dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) maupun Persatuan Persatuan Perawat Indonesia (PPNI).

Guna mengoptimalkan vaksinasi, Dinkes DIJ mengerahkan tim yang ada. Terbukti untuk penyuntikan vaksin terbagi menjadi 13 meja. Lalu untuk tahapan observasi terdapat 17 meja.

“Sebelumnya sudah ada lansia dan pekerja publik yang masuk shift pertama. Ini untuk shift kedua para pekerja seni di Jogjakarta,” katanya.

Para pekerja film, lanjutnya, masuk dalam kategori pekerja publik. Pertimbangannya adalah resiko terpapar Covid-19 yang cukup tinggi. Ini karena profesi pekerja film kerap berinteraksi dengan banyak orang.

“Banyak berinteraksi dan tidak tahu riwayatnya. Sehingga memang rentan terpapar Covid-19. Selain itu juga wujud setelah mas Hanung melakukan advokasi ke pak Gubernur (HB X),” ujarnya. (dwi/sky)

Entertainment