RADAR JOGJA – Produktivitas perfilman di Indonesia menurun drastis selama pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Bahkan bisa dibilang berhenti beroperasi selama setahun belakangan. Alhasil roda perekonomian di sektor ini juga tak berjalan.

Sutradara film Hanung Bramantyo tak menampik kondisi ini menyiksa para pekerja film. Terutama saat awal pandemi melanda Indonesia. Sejumlah jadwal produksi hingga peluncuran film batal.

“Produktivitas film di Indonesia sebelum pandemi ada sekitar 60 judul film diproduksi dan siap tayang. Selama pandemi hampir tidak ada produksi film, kecuali mengerjakan sisa yang diinisiasi sebelum pandemi,” jelasnya ditemui di Jogja Expo Center, Rabu (7/4).

Para pekerja film, lanjutnya, terpaksa melanjutkan produksi film. Khususnya yang telah berjalan sejak sebelum pandemi. Langkah ini diambil agar produksi film bisa rampung sesuai jadwal.

Keputusan ini bukan berarti tanpa konsekuensi. Produser film, menurut Hanung, harus merogoh kocek lebih dalam. Mulai dari penerapan protokol kesehatan Covid-19 hingga berubahnya skenario film.

“Yang terlanjur syuting sampai 50 persen akhirnya lanjut, tapi dengan tambahan budget untuk antigen. Lalu ganti skenario awalnya dikota pindah di hutan agar tak bersinggungan dengan publik,” katanya.

Hanung tak menampik rapid antigen menjadi momok tersendiri. Terutama untuk pembiayaan produksi sebuah film. Ini karena setiap pemain maupun kru film wajib menjalani rapid antigen. Agar tidak terjadi klaster Covid-19 saat produksi film berlangsung.

“Terus terang dampak besar secara ekonomi yang awalnya tidak ada budget rapid sekarang ada itu. Sekali rapid Rp. 250 ribu sampai Rp. 300 ribu, kalikan jumlah kru sampai 300an kru film,” curhatnya.

Mau tidak mau para sineas perfilman memilih nekat. Tetap syuting walau bayang-bayang terpapar Covid-19 terus ada. Suasana ini diakui olehnya tak ideal dalam sebuah produksi film.

Adanya vaksinasi bagi pekerja film, menurutnya ibarat cahaya terang. Sebuah jawaban agar produksi film bisa berlangsung dengan nyaman. Mampu membangun rasa percaya diri di tengah pandemi Covid-19.

“Selama pandemi, kami syuting bermodal nekat. Berhadapan dengan pandemi yang tidak kelihatan, kalau tawuran musuhnya kan jelas, tapi ini berhadapan dengan sesuatu yang tidak terlihat sehingga saat syuting tidak nyaman. Kalau sudah vaksin setidaknya lebih percaya diri,” ujarnya. (dwi/sky)

Entertainment