RADAR JOGJA- Sebuah film dengan konsep teater musikal karya sineas Garin Nugroho, ‘Dongeng Kala Pandemi , Ayun-ayun Negeri’ diputar di Kedai Kebun Forum, Minggu (29/10). Pemutaran film hasil kolaborasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di jogja itu menjadi salah satu rangkaian perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2020.

Rencananya film sutradara kawakan Garin Nugroho bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditayangkan pada satu hari jelang Hari Anti Korupsi Sedunia (8/12). Melalui kanal Youtube KPK dan TVRI pukul 19.00 WIB.

“Dongeng dan festival adalah perpaduan seni melawan korupsi. Korupsi harus dilawan dengan berbagai cara,” kata Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK, Giri Suprapdiono.

Giri menambahkan perlawanan korupsi dengan seni, artinya halus namun menukik, tajam namun tak melukai, mengasah hati untuk nurani, menanamkan nilai diri tanpa menggurui, adalah strategi baru pendidikan KPK agar insan negeri tidak ingin korupsi. Pendekatan baru, selain OTT dan pengembalian aset hasil korupsi yang seksi.

“Pemberantasan korupsi bukan sekedar menanamkan ketakutan melalui OTT, juga membangun sistem dengan pencegahan, namun sangat membutuhkan strategi pendidikan agar tidak ingin korupsi, enggan korupsi karena kuat menahan godaan dalam kesendirian,” tambahnya.

Dongeng karya Garin Nugroho adalah sebuah kisah menjahit sejarah korupsi sejak jaman sebelum merdeka. Seniman yang terlibat di dalamnya adalah seniman yang paham keresahan negeri karena terayun ayun karena korupsi. Bagaikan keledai yang terjerumus dalam ke lubang yang sama. Dongeng ini mengingatkan kembali.

Karya seni yang baik mengajarkan pemirsanya untuk mampu membangun nuraninya kembali agar mampu memimpin dirinya sendiri (Self Mastery) berkaca pada perilaku aktornya dan nilai hidup di dalamnya.

Korupsi terjadi karena buruknya sistem, dan pribadi yang lemah integritasnya-memimpin dirinya sendirinya pun tidak mampu. Dongeng ini mengajarkan dan menginspirasi dengan caranya sendiri.

Berharap karya ini akan mencerahkan bangsa, khususnya dunia pendidikan dan dunia antikorupsi. Mata Tuhan akan selalu melihat karya seni yang indah seperti dongeng ini, Karena Tuhan itu menyukai keindahan.

Garin Nugroho selaku sutradara menjelaskan, fenomena esensi panggung dalam kaitannya dengan film kini mulai bergeser ke daring alias online.

“Pandemi menjadi tantangan dalam mengelola sebuah karya. Sangat tidak mudah mengangkat tema yang berhubungan dengan politik dan sosial untuk dibawa ke panggung. Bisa dikatakan teater musikal ini menggabungkan antara pantun, tonil hingga broadway ala jogja,” katanya.

Pemeran utama, Paksi Raras dan Sekar Sari menuturkan jika dongeng ini mengajarkan dan menginspirasi dengan caranya sendiri. “Kami berharap karya ini bisa mencerahkan dunia pendidikan dan lini antikorupsi. Dongeng ini menjahit sebuah kisah akan sejarah korupsi yang sudah terjadi sejak lama. Para pemeran pun harus paham akan keresahan yang melanda negeri, lantaran terayun-ayun korupsi,” ujar mereka berdua.

Asisten Sutradara Jamaludin Latif menambahkan, persiapan penggarapan teater musikal ini waktunya sangat mepet. Dari alur naskah, pemilihan pemeran, setting panggung, koreografi dan ambience sound. “Ibarat kata seperti ‘Bandung Bondowoso’, membuat 1.000 candi dalam waktu semalam. Kami pun sangat puas dengan hasilnya. Terimakasih apresiasi positif yang diberikan penonton. Ini menjadi pelecut kreatifitas kami di masa pandemic,” tukas Jamaludin.

Repertoar ‘Ayun-Ayun Negeri’ mengkisahkan tentang Juru Pengarah Perempuan yang ingin menceritakan riwayat Indonesia dari era revolusi industri 1.0 dari zaman Moi Indie hingga era sekarang. Juru Pengarah Perempuan ini memahami bahwa di setiap revolusi selalu ada praktik korupsi. Bersama Juru Naskah, mereka berdua lalu meneliti tentang masyarakat sipil yang sehat, produktif dan kritis. Percikan cinta pun terjadi diantara mereka berdua.(sky)

Entertainment