RADARJOGJA- Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) kembali mempersembahkan Jagongan Wagen (JW) edisi kesembilan tahun ini menampilkan “Nyanyian Tapah Ode Untuk Sungai Batang Hari yang berbeda dari tahun lalu.Pada Tahun ini Jagongan Wagen ini dalam format alih wahana digital, yang dapat diakses pada Jumat, 27 /11 mulai pukul 19:30 WIB. Penayangan Jagongan Wagen juga disertai dengan adanya Closed Caption bagi audiens dengan difabilitas

Kurniadi Ilham koreografer Mendalo Dance Project mengatakan bahwa karya ini berupaya memotret keadaan sungai Batang Hari saat ini yang penuh dengan pencemaran. Ia menyebut ekploitasi yang terjadi di sungai Batang Hari telah menjadi kasus yang mengancam kehidupan ekosistem sungai di masa sekarang dan di masa depan.

Karya yang terinspirasi dari cerita rakyat Tapah Malenggang yang berkembang di daerah pinggir sungai Batang Hari, di Kabupaten Batang Hari. Tapah merupakan sosok dewa yang bisa berwujud seperti manusia dan ikan yang bertugas menjaga sungai Batang Hari. Tapah Malenggang dengan adik sepupunya memiliki tugas untuk memelihara sungai Batang Hari dari penyusup yang ingin merusak atau mengekploitasi sungai Batang Hari.

Cerita tersebut menjadi inspirasi dalam memotret kondisi sungai Batang Hari di masa kini. Eksploitasi sungai selalu terjadi dari tahun ke tahun. Racun-racun merkuri dari tambang emas illegal jadi salah satu unsur yang mencemari sungai. Kemudian, erosi karena penebangan hutan juga menyebabkan kedangkalan air sungai. Dua contoh tersebut menjadi hal yang mengancam kehidupan ekosistem sungai di masa sekarang dan di masa depan. Manusia sedang dalam kondisi ambivalen, di satu sisi mereka sadar telah merusak hutan di sisi lain mereka harus melakukan itu untuk kelangsungan hidup. Hal tersebut menyebabkan ketidakstabilan dalam bertindak.

Ketidakstabilan tersebut akhirnya berdampak kepada manusia itu sendiri, makhluk hidup yang lain, dan lingkungan tempat tinggalnya. Karya ini akan merepresentasikan sebuah potret dampak ketidakstabilan manusia dalam eksploitasi sungai Batang Hari dalam dua dimensi waktu masa kini dan masa depan, dengan menggunakan idiom tradisi joget dan vokal dari daerah Batang Hari. Hilangnya sikap hidup-menghidupi, ketidak adilan, Ikan-ikan tidak bisa lagi meliuk-liuk, burung-burung tidak bisa terbang ke sungai, dan kemudian alam akan meratapi perilaku manusia.

Dalam pembuatan karya ini berkolaborasi dengan komposer musik, pemusik, dan penata artistik dengan mengusung konsep adaptasi joget Batang Hari dan Silat Jambi dalam pengembangan gerak serta menggunakan vocal krinok untuk memperkuat setiap adegan yang disusun.(sky)

Entertainment