RADAR JOGJA – Butet Kartaredjasa tak menampik Ki Seno Nugroho memiliki potensi yang luar biasa. Kehadirannya menjadi angin segar bagi dunia wayang kulit. Melestarikan nilai tradisi namun m dengan cara modern.

Butet bahkan beranggapan Seno adalah suksesor pengganti Ki Hadi Suwito. Tak hanya dari segi keilmuan tapi juga cara bersikap. Walau kerap bergurau namun nilai-nilai yang disampaikan tetap bermakna.

“Secara ilmu pedalangannya banyak orang mengharapkan dia sebagai pengganti Ki Hadi Suwito. Celelekannya kurang ajarnya bisa diterima oleh masyarakat oleh audiens dunia pakeliran. Sastra dan ketrampilannya genah,” katanya.

Dia juga mencontohkan bagaimana Seno mulai merambah dunia virtual. Langkah ini dapat mendekatkan wayang kulit dengan semua orang. Termasuk para generasi milenial di Indonesia. 

Pola pikir ini mampu menjawab keraguan yang beredar. Bahwa generasi milenial tak tertarik menyentuh dunia wayang kulit. Faktanya, dengan masuknya Seno hipotesa ini tak terbukti.

“Mungkin dia salah satu dalang yang mulai menyentuh wilayah itu dengan merespon keajaiban-keajaiban dunia virtual. Program dia main di rumahnya untuk bisa ditonton seluruh orang di Indonesia. Climen itu bagi saya itu ikhtiar dia merespon dunia digital dunia pewayangan,” ujarnya.

Butet menilai cara berpikir Seno dapat menjadi inspirasi. Khususnya oleh para dalang muda. Agar mau menjelajah ruang eksplorasi. Termasuk mendalami jagad virtual.

“Seno sudha memulai dan membuka pintu untuk eksperimentasi-eksperimentasi itu. Ini harus direspon bahkan dilanjutkan oleh generasi-generasi penerus pedalangan wayang kulit,” pesannya.

Tentang kepergian Seno, Butet sempat memiliki perasaan tak enak. Tak hanya dirinya tapi juga para penghuni Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo. Bahwa November adalah bulan sakral bagi para seniman. Dia mencontohkan kepergian sang adik Djaduk Ferianto.

Walau begitu, Butet menilai Seno meninggal dengan elegan. Mampu meninggalkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi orang sekitarnya. Bahkan meninggalkan sebuah pemikiran yang bisa diteruskan dalam kesenian tradisional.

“Hidup ini sebenarnya cuma menunggu mati. Seperti gojekannya Seno dalam goro-goro. Sambil menunggu mati orang-orang yang hidup mengisi kehidupannya. Seno mengisi kegiatannya dengan mayang jadi dalang, cuma mengisi kegiatan menunggu mati dan sekarang dia sudah menyelesaikan kewajiban hidupnya,” katanya.(dwi/tif)

Entertainment