RADAR JOGJA – Baru tiga hari tayang di YouTube, film ‘Tilik’ tembus 4 juta penonton. Pergunjingan antara ibu-ibu yang pergi menjenguk bu Lurah ke rumah sakit dengan truk tersaji dalam durasi 30 menit. Sosok tokoh utama Bu Tejo yang dikenal julid luar biasa pun viral di media sosial. Film pendek garapan Ravacana Films pada 2018 ini disutradarai Wahyu Agung Prasetyo, 27.

Agung, sapaannya, dengan bangga mengisahkan perjalanan pembuatan karyanya yang meraih Piala Maya 2019 ini.

Suatu malam di tahun 2016, Agung bersama penulis naskah ‘Tilik’ Bagus Sumartono sedang ngobrol santai di angkringan. Saat itu Bagus bercerita bahwa dia melihat rombongan ibu-ibu menjenguk alias tilik di RS PKU Gamping dengan truk. Agung pun penasaran dengan cerita Bagus.

“Mas Bagus bilang dia habis lihat ibu-ibu tilik di RS PKU Gamping, naik truk, tapi cuma sebentar. Setelah itu mereka ke Malioboro. Nah aku nih penasaran, tilik itu seperti apa, kalau dibikin cerita kok menarik,” jelasnya, ditemui di Galeri Lorong, Nitiprayan, Kasihan, Bantul, Kamis sore (20/8).

Sejak itu selama dua tahun Agung menyimpan keresahan, ingin membuat filim ini karena menurutnya seksi. Kultur tilik dengan truk menjadi hal yang unik untuk diangkat ke medium film. Sayangnya saat itu dia dan sang produser Elena Rosmeisara, 27, terkendala budget untuk memproduksinya secara independen.

“Terus ada program pendanaan film dengan Dana Keistimewaan itu, kami kirim proposal dan naskah ke Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ sekitar bulan Februari 2018 dan ternyata lolos,” tuturnya.

Setelah lolos pitching, hingga naskah final disupervisi oleh Disbud DIJ terkait isu yang diangkat. Menurut Agung, film Tilik menarasikan soal berita sesat, hoax, hingga masalah perempuan berstatus single. 

“Kebetulan kami bertiga (Agung, Elena, dan Bagus) tumbuh dari ibu yang berstatus single, berangkat dari pengalaman yang sama, ibunya pernah diguniing, dirasani, dan lain-lain. Ingin mengungkapkan bahwa perempuan itu berhak menentukan sikap,” jelas almuni Ilmu Komunikasi UMY ini.

Sebelum memulai syuting, tim produksi khususnya Agung, Elena, dan Bagus melakukan observasi di lapangan. Tepatnya di Dusun Saradan, Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Bantul. Mereka mencoba ikut dalam rombongan ibu-ibu yang akan menjenguk tetangganya yang sakit di rumah sakit di kota. Tentu saja dengan truk.

“Tilik ini momentum orang desa sebagai hiburan, refreshing ke kota,” ujar Agung.

“Ya, tilik itu alibinya aja buat ke Pasar Beringharjo, pas kami observasi ya ibu-ibu itu cuma sebentar tiliknya,” timpal produser Elena. 

Film ‘Tilik’ mengambil latar dari Dusun Saradan juga. Proses syuting dimulai sekitar bulan Juni 2018, saat itu bulan puasa. Elena mengatakan pemain pendukung di dalam truk yang merupakan ibu-ibu warga setempat saat itu tetap berpuasa di tengah kesibukan syuting. Sang sopir truk Gotrek ternyata juga warga Dusun Saradan. Namun kebiasaannya tampil di ketroprak membuatnya tidak canggung di depan kamera.

Agung mengakui tantangan di film ini memang dialog yang sangat panjang dan intens.

“Aku bilang ke ibu-ibu, nggak perlu saklek sama naskahnya, kayak biasanya kalau ngrasani orang-orang saja,” ujarnya.

Pada bulan September 2018 film Tilik rilis. Ravacana Films mendistribusikannya ke festival-festival film, salah satunya World Cinema Amsterdam 2019. Sayangnya film Tilik tidak berkesempatan menang di festival-festival film pendek. 

Penyebabnya terkendala durasi yang melebihi persyaratan umum yakni 20-25 menit. Padahal durasi film Tilik yang 30 menit itu sudah dipotong sekitar 10 menit dari aslinya yakni 40 menit. Potongan tersebut tidak dipakai karena menurut Agung hanya akan membuat cerita menjadi bertele-tele.

“Dua tahun dipingit untuk festival. kami berpikir kayaknya belum semua menonton Tilik. Film yang kami buat harus ditonton seluas luasnya. Lalu putar di YouTube karena kalau di pemutaran alternatif sekarang nggak relate karena di tengah pandemi,” beber Elena.

“Ternyata menjaga (durasi) Tilik tetap utuh, berbuah sekarang,” tambahnya.

Berbagai pujian dan kritikan menyambut viralnya film Tilik. Bagi Agung, hal tersebut menunjukkan ekosistem yang sehat untuk menciptakan karya. Tak sedikit penonton yang mengusulkan membuat seri lanjutan Tilik dengan medium yang lain misalnya tradisi rewang. Mengingat cerita Dalam film Tilik mengangkat kebiasaan pergunjingan.

“Sempat kepikiran juga dengan banyak usulan bikin part 2. Kenapa nggak rewang dan lain-lain, cuma dulu ide awalnya memang dari truk, ya mungkin kapan-kapan lah,” katanya.

“Dan kenapa truk, karena truk itu medium yang sempit. Jadi bisa dimaknai juga seperti pemikiran mereka yang sempit kan ngomongin Dian terus,” sambung Elena sambil tertawa.

Mereka tak menyangka film Tilik mendapat antusiasme yang sangat tinggi seperti sekarang. Tak sedikit pula penonton yang kagum karena meski film ini didanai Pemerintah, namun tidak terkesan kaku, dipaksakan, dan dibatasi.

“Justru ini yang menurutku jadi value Pemerintah DIY. Memberikan kebebasan eksplorasi kepada seniman film, memilih supervisor pun dari kalangan sineas,” tandasnya.

Selain Tilik, Agung pernah menyutradarai film pendek Mak cepluk (2014), Nilep (2015), Singsot (2016), Kodhok (2017), dan Anak Lanang (2017). (tif)

Entertainment