RADAR JOGJA – Nama Bu Tejo tengah ramai dibincangkan warganet di media sosial. Bahkan sudah dua hari menduduki trending topic di Twitter Indonesia. Gambar meme dengan kutipan dialog Bu Tejo pun beredar di mana-mana. Tokoh utama dalam film pendek berjudul ‘Tilik’ garapan Ravacana Films pada 2018 ini dikenal dengan gunjingannya yang pedas terhadap kembang desa bernama Dian. 

Radar Jogja berkesempatan mengobrol dengan sosok pemeran bu Tejo yang fenomenal ini. Dialah Siti Fauziah. Kamis sore (20/8) di Galeri Lorong, Nitiprayan, Kasihan, Bantul, perempuan 31 tahun ini menyapa kami dengan ramah, jauh dari kesan penggosip seperti bu Tejo. 

Siti Fauziah, pemeran Bu Tejo dalam film Tilik. (LATIFA NURINA A/RADAR JOGJA)

Wajahnya mungkin tak asing bagi sebagian penggemar film Indonesia. Dia pernah menjadi pemain pendukung di film Mencari Hilal, Talak 3, Sultan Agung, Bumi Manusia, Mekkah I’m Coming, dan film-film pendek lainnya.

Siti Fauziah yang akrab disapa Ozie ini mengisahkan, awalnya dia dipilih sang sutradara Wahyu Agung Prasetyo untuk memerankan Yu Tri. Namun sekitar tiga hari sebelum syuting, dia diminta menerankan Bu Tejo. Karena pemeran sebelumnya sudah sepuh dan tak sanggup menghadapi medan syuting yang berat.

“Medannya lumayan berat, truknya tingginya sebahu orang dewasa. Jadi ditanya kalau ganti gimana, itu sudah detik-detik mau syuting, tiga hari sebelumnya kalau nggak salah,” kenang warga Kasihan, Bantul ini.

Bu Tejo adalah pengalaman pertama yang diperankan Ozie sebagai tokoh utama di film pendek. Pengalaman pertamanya juga membintangi road movie dari Dlingo, Bantul sampai Gamping, Sleman.

“Lumayan panjang, intens. Reading beberapa kali, take gambarnya tiga harian lah, tapi cuma pagi sampai siang,” katanya.

Menurut Ozie, tantangan terbesar dari memerankan Bu Tejo adalah naskahnya yang sangat panjang. Terlebih syuting Tilik termasuk road movie ini dilakukan di atas truk berjalan. Sebagai aktor, bedah naskah dan membangun karakter tokoh wajib dilakukan. Ozie pun melakukannya mulai dari mempelajari latar belakang sosok Bu Tejo.

“Bedah naskah harus panjang. Bu Tejo latar belakangnya apa, secara psikologis orangnya gimana, situasi sosialnya seperti apa, berkarakter seperti apa. Aku berusaha membayangkan tokoh ini, outputnya kok ngganyik (menjengkelkan, red.) banget,” jelas penggemar karya sutradara Joko Anwar ini.

Tak sampai di situ, untuk menghasilkan aktingnya yang tampak sangat realistis itu, Ozie mempelajari gaya rasan-rasan dari ibu-ibut tetangga hingga pedagang pasar yang kerap dia temui.

“Misalnya pas belanja ketemu pedagang pasar atau ibu-ibu, biasanya ada yang menggosip dulu, hal yang kecil-kecil ini saya kumpulkan. Tapi kalau aku jadi Bu Tejo beneran kok kayaknya enggak,” kelakarnya.

Ibu satu anak ini juga kerap memasukkan improvisasi dalam dialog Bu Tejo. Misalnya dialog ‘Koyo uripe duwe karir wae’ atau ‘Dadi uwong mbok sing solutif koyo aku’ saat berdebat dengan Yu Ning (Brilliana Desy).

“Yang ‘Tak kandakke sedulurku sing polisi bintang lima jejer-jejer’ itu juga sebenarnya improvisasi lho,” tambah Ozie.

Dia pun mengaku kaget ketika foto Bu Tejo ramai dijadikan meme beserta kutipan dialog yang justru merupakan sekadar improvisasi.

“Aku deg deg an banget, takut kok aku jadi sorotan ya? Meme itu, yang sering dijadikan itu celekopanku (improvisasi, red.), tidak berdasarkan di naskah,” ungkapnya.

Film Tilik dimaknai beragam oleh penontonnya. Bagi Ozie pribadi, kisah Tilik memberi refleksi bahwa menjadi perempuan harus memiliki sikap. Khususnya dalam menghadapi fitnah, gosip maupun pergunjingan.

“Kalau ketemu orangnya ditanya langsung. Jangan dibikin bahan (pergunjingan), kroscek sama yang dibikin bahan. Karena diomongon orang kan nggak enak. Ini refleksiku aja sih, bukan film yang menggurui juga kan,” tuturnya.

Dari viralnya Bu Tejo mendapat banyak komentar maupun pesan warganet di akun instagramnya. Hal tersebut dia anggap sebagai apresiasi.

“Nggak nyangka, responnya positif, ramai bukan karena film yang dihujat. Terima kasih sudah menonton,” ucapnya. (tif)

Entertainment