SUDAH menjadi keraguanku sejak di alam prasangka bahwa berat bagi film ini minimal mengimbangi ketegangan mencekam Captain Phillips (2013) yng sama-sama karakter utamanya diperankan Tom Hanks. Plus dengan setting yang mirip, di atas kapal.

Kali ini plotnya jauh lebih tipis, Hanks masih menjadi kapten. Dia memimpin kapal pemimpin konvoi pengangkut pasukan dan suplai drariAS menuju Liverpool demi memasok gedoran aliansi sekutu dalam PD II. Daerah berbahaya di tengah Atlantik yang dikenal dengan Black Pit menjadi arena rapuh bagi konvoi ini untuk jadi sasaran empuk kapal “serigala” U-boat Jerman yang cerdik dan gesit. Sebab, di sepanjang area inilah mereka (konvoi AS) tak mendapat kawalan udara. Mereka sendirian di tengah hamparan luas Atlantik hingga puluhan jam mendapatkan kawalan udara dari UK.

Durasi film ini sangat bersahabat, yakni sekitar 90 menit. Bisa dibilang dengan durasi seideal ini film yang skenarionya ditulis Hanks sendiri ini cukup berhasil membangun keseruan aksi berkelit dari sergapan demi sergapan tentara Jerman. Film tak membuang banyak waktu untuk memulai aksinya. Selang 15 menit setelah fase pengantar yang secara infografis lumayan informatif dan tempelan drama yang saya rasa sedikit kaku, film mulai sibuk dengan teror dan adegan aksinya.

Ekspresi wajah Hanks dalam menciptakan aura menegangkan sangat menjadi tumpuan di sini. Berbeda dengan Captain Phillips yang lebih holistik. Detail teknis dan adegan minor simbolik atas adegan genting sebenarnya cukup mapan dan masuk dalam film ini. Cuma sayangnya bagiku hingga akhir film urgensi heroisme plotnya terasa dangkal karena penyutradaraan yang terasa kurang jam terbang.

Dari segi pilihan pengambilan gambar pun bisa dibilang kurang membantu meningkatkan keseksian heroisme film ini. Beberapa kali terasa main syantique, lebih-lebih ketika bagian hendak memperlihatkan aurora. Byk pilihan yang membuat penonton justru makin merasa berjarak. Ilustrasi musiknya sesuai nuansa, tapi macam robot. Elemen sonar masih saja gentayangan berpadu dalam komposisi musik ketika adegan sudah beralih dari pengamatan sonar.

Menonton film ini bagi saya sebuah pengalaman yang cukup asyik. Sebab, sensasi menegangkannya dapat, tapi tidak dengan mencekam dan segala sensasi sinematiknya. Belum lagi, heroisme yang seharusnya menjadi jualan utama film iniĀ  malah tak terasa inspiratif. Pada akhirnya, film ini adalah sebuah tontonan serba baru yang cukup menghibur. Serba baru karena di sini Hanks menulis skrip dan untuk pertama kalinya ini adalah film produksi Apple Original (yang akankah mampu mengejar Netflix?). Untuk sebuah ukuran kebaruan, film ini sudah tampak berusaha sekuat tenaga menjadi tontonan yang memadai. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara.

Entertainment