JOGJA – Suasana malam di Kopi DST, Kasihan, Bantul terlihat padat oleh kedatangan orang tua, remaja, dan anak-anak. Tak hanya menyesap segelas kopi, namun mereka tampaknya asyik mengikuti dialog yang diadakan Minggu malam (16/6).

Ya, di sana sedang diadakan launching buku Memindah Dapur ke Halaman karya Gernatatiti dan Deidra Mesayu. Suasana makin meriah dengan kehadiran Jono Terbakar yang menyanyikan lagu-lagu “tak jelas” namun cukup mengena di otak dan sanubari.

BIKIN MERIAH: Musisi Jono Terbakar yang tampil dalam launching buku Memindah Dapur ke Halaman. (AJI PRASETYO FOR RADAR JOGJA)

Launching buku ini dipersembahkan bagi anak-anak dan orang tua yang membutuhkan bacaan segar, simpel, namun jenaka. Menurut penulisnya, Gernatatiti, buku ini merupakan kumpulan cerita tentang pengasuhan anak dengan pendekatan cerita yang dia alami sendiri bersama sang buah hati, Jalu, yang masih berusia tujuh tahun.

”Cerita-cerita yang ada di buku, awalnya sempat saya tulis sebagai status di akun Facebook dan kebetulan banyak sekali like-nya. Dari situ, berpikir sayang sekali jika tidak didokumentasikan. Akhirnya jadilah buku ini dengan ilustrasi dari Deidra,” ujarnya malam itu memberikan pengantar tentang bukunya.

Di sisi lain, menurutnya, kemunculan buku ini juga sebagai bentuk keresahan yang dia alami. Gerna, sapaannya, merasa kesulitan mencari buku untuk anak yang sesuai dengan keinginannya. Menurutnya, terlalu banyak buku anak yang juga menjadi polisi moral. Padahal setiap peristiwa memiliki jalannya sendiri tanpa harus dihakimi.

”Merasa kalau kami butuh bacaan yang sehat. Mencoba sesederhana mungkin menyampaikan cerita dalam buku agar bisa dibaca anak-anak. Ceritanya ya dari peristiwa yang saya alami bersama anak saya,” ungkapnya yang terlebih dulu meminta izin orang tua anak-anak yang kisahnya muncul dalam buku ini.

Sementara itu, Deidra Mesayu merasa membuatkan ilustrasi untuk buku ini merupakan kesempatan yang tidak bisa ditolak. Pemilik akun @ramesayur ini mengaku baru kali pertama mengilustrasikan cerita untuk buku anak. ”Kesempatan yang tak bisa ditolak, apalagi setelah baca naskahnya ceritanya menarik,” ungkapnya.

Deidra mengungkapkan, awalnya dia memakai teknik digital untuk ilustrasinya. Namun, ternyata Gerna lebih suka ilustrasi yang dibuatnya menggunakan tinta. Meski begitu, selama proses pembuatan ilustrasinya, tak banyak menemui kendala. (ila)

Entertainment