Biasanya saat menonton film horror, efek yang didapat adalah jantung yang berdebar dan deg-degan karena kaget dengan jump scare-nya atau ketakutan yang luar biasa. Tapi nonton film arahan sutradara Mike Flanagan ini justru bikin mrebes mili. Betapa tidak, dalam film serial yang terdiri dari 10 episode di season pertamanya ini, banyak mengulas hubungan kekerabatan antartokoh di dalamnya.

Film ini menceritakan sebuah keluarga, ayah, ibu, dan lima anaknya yang membeli sebuah rumah. Pasangan Olivia dan Hugh Crain merupakan arsitek yang kerap membeli rumah untuk diperbaiki dan dijual kembali. Nah, kali ini dia membeli rumah besar dari keluarga Hill, maka tak heran jika rumah ini memiliki julukan Hill House. Mereka lantas tinggal di sana bersama anak-anak mereka, Steven, Shirley, Theodora, Luke, dan Nell Crain.

Di malam pertama sudah terdapat kejadian-kejadian janggal yang terjadi, namun keluarga ini masih merasa aman-aman saja saat berada di dalam rumah. Hingga suatu kali, sang ibu, Olivia, mendapati kondisi psikologis yang tak biasa dan dinyatakan bunuh diri, sehingga Hugh membawa semua anak-anaknya ke luar dari Hill House. Namun, saat mereka dewasa, masing-masing tokoh ternyata memiliki mendapati kondisi psikologis yang tak jauh-jauh dari kenangan masa kecil mereka di Hill House

Film ini menurut saya lebih banyak unsur dramanya dibandingkan horornya. Meski saat menontonnya, saya tetap ndelik-ndelik ketakutan karena hantu-hantunya yang menampakkan diri. Bahkan, penonton dibuat bertanya-tanya, tadi itu yang muncul hantu atau bukan ya.

Serial film di Netflix ini memberikan nuansa yang intens, baik dari sisi cerita maupun penggambaran tokoh-tokohnya. Ditambah lagi dengan alur yang maju mundur tanpa membingungkan audience. Ditambah lagi, pewarnaan yang muncul dari tiap-tiap tokoh maupun episode memberikan nuansa yang berbeda, semacam nuansa penegasan dari sosok-sosok si tokoh yang diceritakan di tiap episodenya.

Dari ke sepuluh episode, terdapat satu episode yang cukup menyita perhatian. Bahkan sudah banyak sekali ulasan-ulasannya. Episode dimana seluruh anggota berkumpul kembali karena ada satu tokoh yang meninggal dunia. Pergolakan emosi, konflik, hingga adegan-adegan horornya begitu intens di episode ini. Bagi yang penyuka horror, mungkin film ini dianggap kurang menakutkan tapi mampu memberikan intensitas ketegangan. Bagi yang tak suka horror pun masih bisa dinikmati dari sudut pandang cerita yang cenderung drama. Film ini layak mendapatkan apresiasi dari penonton, maka tak salah jika saya merekomendasikan film ini sebagai tontontan pembaca sekalian. (ila)

*Penulis adalah wartawan yang juga pecinta makanan manis, guyonan segar, dan film-film detektif. Pun penggemar musik-musik dari lintas genre asal bisa membuat kepala manggut-manggut.

Entertainment