RADAR JOGJA – Hingar bingar Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) Ke-25 tetap terasa walaupun digelar secara daring, mulai 18-22 November lalu. Selama lima hari penyelenggaraan, hampir 2.000 pengunjung laman menyaksikan festival internasional tahunan ini.

Belasan penampil dari dalam dan luar negeri juga berpartisipasi dalam YGF Tak terkecuali, Jody Diamond, seniman asal Amerika Serikat, yang ikut mendukung penyelenggaraan YGF sejak pertama kali.

Menurut General Manajer YGF Setyaji Dewanto usia 25 tahun YGF dianalogikan sebagai pesta perak YGF.

“Ini menjadi satu momentum khusus dalam sebuah perjalanan, perlu ada tetenger, ada monumen, dan YGF yang tampil secara daring ini menjadi salah satunya,” ujarnya Minggu (22/11).

Setyaji menuturkan, layaknya pernikahan, usia ke-25 membutuhkan komitmen baru. Demikian pula dengan YGF.

Komitmen baru yang nyata tampak dalam YGF ke-25 lanjut Setyaji merupakan konsep perhelatan yang digelar secara daring.

“Artinya, gamelan telah membuat komitmen baru dengan teknologi,” katanya.

Project Director YGF Ishari Sahida mengatakan selama lima hari penyelenggaraan YGF ke-25 menunjukkan kebersamaan masih ada meskipun jaraknya nyata.

Pria yang akrab disapa Ari Wulu ini menilai, dukungan dan keputusan untuk terlibat di penyelenggaraan YGF ke-25 ini membuktikan YGF selalu berfungsi sebagai tempat berkumpulnya pecinta dan pemain gamelan.

“Saat ini hanya perlu evaluasi dan membutuhkan perencanaan untuk lebih baik,” kata Ari.

Konser gamelan dalam YGF ke-25 hari terakhir menampilkan Omah Cangkem dari Yogyakarta, Gamelan Keller dari Prancis, dan Jhung Rojhung dari Pamekasan. Di dalam YGF ke-25 juga terdapat dua program talkshow dan satu program rembug budaya. (naf/tif)

Event