RADAR JOGJA – Batalnya ArtJog Time to Wonder tak mematahkan semangat para seniman dan pihak penyelenggara. Hadirnya ArtJog Resilience seakan menjadi jawaban di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Ratusan karya terpampang di dinding gedung Jogja National Museum (JNM). 

Sempat dibuka secara terbatas, kini ArtJog terbuka untuk publik. Pameran para perupa ini berlangsung hingga 10 Oktober. Tentunya penerapan protokol Covid-19 menjadi syarat wajib bagi para pengunjung pameran.

“Dalam satu hari terbagi menjadi tiga sesi. Setiap sesi dibatasi maksimal 60 pengunjung. Sesi pertama 10.00 – 12.00, lalu 13.00 – 15.00, dan pukul 16.00 – 18.00,” jelas penggagas ArtJog Heri Pemad, ditemui di JNM, Senin (7/9).

Pembelian tiket kunjungan melalui reservasi terlebih dahulu dengan transaksi online. Setelahnya datang ke lokasi pameran dan mengisi data diri. Langkah ini sebagai antisipasi tracing jika muncul kasus Covid-19 dalam pameran ini.

Peraturan lebih tegas berlaku untuk pengunjung asal luar Jogjakarta. Wajib melampirkan surat bebas Covid-19 baik secara rapid diagnostic test (RDT) dengan hasil non reaktif maupun swab PCR dengan hasil negatif Covid-19.

“Ini persyaratan wajib atas koordinasi dengan BPBD provinsi. Semua dilakoni demi kebaikan bersama,” katanya.

Hadirnya ArtJog Resilience menjadi pilot project dunia pameran seni rupa di Indonesia dengan protokol kunjungan. Pemad menilai adanya adaptasi menjadi bentuk yang lebih segar.

Pandemi Covid-19, lanjutnya, mengubah pola pandang dalam dunia seni. Terfokus agar pengunjung tetap nyaman namun protokol Covid-19 tak terlupakan. Dia tak menampik adanya evaluasi agar tampilan ArtJog lebih pas.

“Jadi pilot project, simulasi pameran yang benar seperti apa saat pandemi. Bukan berarti kami mengajak orang untuk keluar rumah, tapi saya merasa ini lebih menyembuhkan daripada berdiam diri di rumah. Tentu dengan protokol Covid-19 tinggi,” ujarnya.

Mepetnya waktu penyelenggaraan bukan berarti tak totalitas. Antusiasme para perupa tetap tinggi. Terbukti dari terpenuhinya kuota karya hingga batas waktu. Ratusan perupa yang hadir mampu menyajikan karya-karya apik. Tak hanya secara personal tapi juga kolaborasi antarseniman. Pemad menilai pameran kali ini seakan menjadi penanda zaman. 

Terlihat dari karya-karya yang disajikan. Beberapa di antaranya menggambarkan kecemasan personal terkait kondisi saat ini, pandemi menjadi inspirasi dalam berkarya. Penyelenggaraan ArtJog di tengah pandemi masih akan ada penyempurnaan untuk ArtJog di 2021.

“Jumlah seniman 75, tapi kalau yang total terlibat bisa lebih dari 200 perupa. Ini sifatnya bisa menjadi penanda zaman saat heboh pandemi Covid-19,” katanya.

Karya keresahan di tengah pandemi ditunjukan oleh beberapa seniman. Di antaranya Agus Suwage dengan lukisan bertema masker. Berjudul Droplet Series-After Da Vinci dan Droplet Series-Tolak Bala After DeLacroix. Lalu perupa dari Bandung, Sunaryo, dengan karyanya When the Dancers Stay at Home.

Perupa asal Jogjakarta Djoko Pekik turut berpartisipasi. Pria sepuh ini mengangkat judul Gelombang Masker. Lukisan berukuran 150×250 meter ini menggambarkan puluhan orang berebut masker. Adapula mobil bak terbuka bertulisan Corona. 

“Kondisi awal pandemi tidak kemana-mana dan sebagian besar memaknai dengan berkarya secara maksimal. Perspektif mereka atas kondisi pandemi saat ini,” ujarnya. (*/dwi/tif)

Event