RADAR JOGJA - Setiap band jika hanya bergantung dari penghasilan tampil di panggung saja mungkin kurang cukup. Terlebih mereka harus membayar tim produksi yang bekerja di balik layar.
Dengan membuat merchandise dan lalu dijual menjadil salah satu alternatif cara yang bisa dibilang efektif dalam setiap band untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
Hadirnya merchandise bisa memberikan nilai plus bagi band dan penggemar, seperti band tersebut bisa dikenal banyak orang karena ada penggemarnya yang memakai merchandise band itu. Kemudian bisa dijadikan kenangan secara fisik untuk para penggemarnya.
Di setiap band mereka memproduksi merchandise menggunakan berbagai brand-brand ternama. Brand-brand apa saja yang sering digunakan pada merchandise band?
- Gildan
Gildan sudah mempunyai rating paling tinggi dalam jumlah konsumennya.
Gildan didirikan tahun 1984 oleh Glen dan Greg Chtarmandy.
Gildan identik dengan logo font-nya berwarna biru dengan ragam jenis tag seperti Gildan Heavy, Gildan Softsyle, dan Gildan Ultra.
Gildan sangat terkenal untuk kaos band dan juga telah digunakan oleh band Weezer, Queen, Nirvana, sampai The Clash.
- Fruit Of The Loom
Fruit Of The Loom ini sudah berdiri sejak tahun 1851 didirikan oleh Robeth Knight dan Benjamin Knight.
Mereka berdua memulai bisnisnya dengan memproduksi pakaian pria, wanita, dan anak-anak. Di tahun 1970 an bisnis merchandise band sedang naik pada zaman itu.
Akhirnya mereka mulai menjual kaos polos yang bisa digunakan setiap band untuk digesut atau disablon sebagai merchandise nya.
Band yang pernah menggunakan Fruit Of The Loom sebagai merchandise yaitu Over Kill, Oasis, dan The Chambers Brothers.
Baca Juga: Febri Diansyah, Sosok Aktivis Antikorupsi yang Kini Jadi Pengacara Tersangka Korupsi
- Hanes
Awal mula Hanes hanya memproduksi kaos kaki saja, kemudian di tahun 1901 John Wesley Hanes menjadikan Hanes Corporation yang siap untuk memproduksi sebuah pakaian pria, wanita, sampai anak-anak.
Hingga saat ini Hanes tidak hanya menjadi pelanggan tetap untuk merchandise band, tetapi mereka juga sudah bekerja sama dengan brand clothing seperti Legs, Bali, Playtex, dan Champion.
- American Apparel
American Apparel berdiri sejak tahun 1997 untuk pertama kali membuka tokonya di Los Angeles.
Di sana American Apparel menjual T-shirt berbahan sutra dan mulai memasuki kampus-kampus di Carolina.
Tetapi di tahun 2015 American Apparel telah dinyatakan bangkrut dan dibeli oleh Gildan Activewear.
Band yang pernah menggunakan American Apparel antara lain MGMT, Less Than Jake, dan Arcade Fire.
Setelah mengenal brand - brand yang ada pada merchandise band, kita beralih ke first print dan re-print.
Banyak orang yang menyebut merchandise band ini first print dan re-print. Biasanya istilah itu sangat diperhatikan oleh kolektor dan penggemar band.
Untuk first print itu berarti cetakan pertama dari sebuah desain, sedangkan re-print berarti cetakan kedua dan seterusnya.
Dalam hal ini memang terdapat sedikit perbedaan desain yang dibuat, walaupun tidak terlalu drastis bedanya.
Seperti first print bisa dijual dengan harga Rp 700 ribu, sedangkan re-print mungkin seharga Rp 350 ribu.
Selanjutnya ada istilah Bootleg yang paling sering didengar jika melihat merchandise band palsu. Rata-rata merchandise band palsu itu disebut oleh para kolektor sebagai bootleg, entah itu buatan sendiri atau beli di toko yang kurang trusted.
Edisi Tour merupakan pembeda dengan merchandise band regular edition dengan tour edition. Karena edisi tour ini biasanya jika dijual kembali harganya bisa melambung tinggi.
Salah satu faktornya adalah desain di belakang bajunya yang terdapat jadwal tour band ketika sedang menjalani tour dunia.
Yang terakhir ada rare edition biasanya hanya dicetak dalam jumlah yang sedikit. Tidak heran jika jadi buruan para penggemar dan kolektor Merchandise band.
Dikarenakan memiliki desain yang sangat berbeda, biasanya merchandise rare edition ini tidak akan dicetak lagi atau first print. (Adek Ridho Febriawan/ RADAR JOGJA)
Editor : Bahana.