KOLESE DE BRITTO FOR EKSPRESI
TRADISI: Teman-teman SMA Kolese De Britto merayakan kelulusan nya dengan long march dari sekolah hingga Tugu Jogja. 
 
CORET coret seragam sekolah ato konvoi motor keliling kota udah bukan lagi kebanggaan bagi para siswa SMA yang tengah merayakan lulusan. Udah enggak zaman nya lagi cuy… Selain enggak ada gunanya, justru malah bikin macet, juga rawan kecelakaan dan rusuh.
Beberapa sekolah di Jogja udah mulai pada ngejalani aksi-aksi positif, unik dan menarik. Ada banyak cara dilakuan dan masing-masing sekolah beda aksi.
Seperti para siswa SMA Kolese De Britto tiap tahun selalu jalan kaki dari sekolah sampai Tugu Jogja. “Sambil menyanyikan mars penuh semangat. Lega, setelah berjuang selama tiga tahun. Mereka ke tugu tanpa bawa motor. Mereka menghargai orang lain di jalan, enggak mau bikin lalu lintas tambah padat dan macet ,” ungkap Widi Nugroho , Wakasek Humas De Britto.
Sementara teman-teman Padmanaba ato SMAN 3 Jogja merayakan kelulusan dengan bagi-bagi nasi kotak ke daerah alun-alun Utara. Mereka ingin merayakan kelulusan dengan berbagi pada sesama.
“Kami ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain, karena kelulusan ini sebuah moment yang membahagiakan. Ketimbang coret coret, mending melakukan aksi positif untuk sesama,” kata Yeremia Dwi, koordinator aksi.
Serupa namun tak sama, teman-teman SMA Muhammadiyah 2 Jogja berkunjung ke Dusun Pule Ireng, Kecamatan Tepus, Gunungkidul mengumumkan kelulusan sekaligus bagi-bagi sembako ke warga. Setelah itu mereka juga mengikuti acara outbond dan menikmati keindahan pantai Indrayanti.
“Anak harus diajak melihat realita berbeda dari kehidupan mereka. Kalau di rumah mereka serba berkecukupan bahkan berlebihan, kita ajak ke lingkungan yang kesusahan dan serba kekurangan. Supaya mereka sadar bahwa momen kelulusan ini bisa dilakukan enggak sekadar dengan coret coret ato tawuran. Tapi bahwa banyak orang yang mesti dibantu,” ungkap Rohmatunnazilah, Humas Muhammadiyah 2 Jogja.
Lebih jauh Widi berpesan, apapun kegiatan anak untuk merayakan kelulusan, yang terpenting mereka dapat mempertanggungjawabkan kegiatan itu dan enggak merugikan orang lain. (ata/man/ong)

Ekspresi