RIRIN OKTAVIANI/ESKPRES
MESIN WAKTU: Teater Kertas SMAN 2 Jogja mempersembahkan lakon teater yang sedang mereka suguhkan itu untuk almarhum Didi Petet.
MENINGGALNYA tokoh teater Indonesia, Didi Widiatmoko ato Didi Petet juga dirasakan teman-teman Teater Kertas SMAN 2 Jogja. Kebetulan, meninggalnya Didi Petet bertepatan dengan hari pementasan Teater Kertas Jumat (15/5). Maka pementasan teater yang mengangkat cerita Kabayan itupun dipersembahkan untuk menghormati Didi Petet yang sempat malang melintang di dunia teater.
Karir keartisan Didi Petet diawali dari teater, televisi hingga layar lebar. Dalam perjalanan kariernya, Didi Petet memerankan berbagai tokoh, salah satunyasebagai Kabayan dalam Si Kabayan Saba Kota.”Tepat sekali dengan cerita yang kami angkat, Kabayan,” tutur Manik Pramiteung sebagai sutradara.
Dalam cerita dikisahkan seorang bernama Kabayan yang saking sibuknya dengan project mesin waktu dia enggak mikir orang-orang di sekitarnya. Seperti Iteung si gadis yang selalu ada buatnya. Iteung kecewa dengan Kabayan, sebab dulu Kabayan selalu ngejar-ngejar Iteung tapi sekarang Iteung dilupakan.
Ternyata Kabayan membuat mesin waktu untuk membahagiakan Iteung. Ia ingin berbulan madu di tempat yang romantis dengan Iteung. Tapi karena enggak ada komunikasi, hubungan mereka terganggu.
Pementasan dibawakan teman-teman SMAN 2 Jogja malam itu patut diacungi jempol. Karena dari 19 talent yang terlibat, semuanya mempersembahkan permainannya untuk Didi Petet. “Menjadi semangat untuk mementaskan yang terbaik bagi penonton dan juga untuk Didi Petet,” tambah Manik.
Anggita Syifa Khoirunnisa, asisten sutradara memaparkan, pesan yang ingin disampaikan dalam pementasan kali ini adalah komunikasi di antara manusia itu perlu untuk mengurangi masalah. Sesibuk apapun, jangan melupakan orang yang selalu ada buat kita-kesetiaan hubungan memang banyak ujiannya.
Teater kertas belum pernah belajar langsung dengan Didi Petet, namun sangat berterimakasih karena telah menjadi bagian dari dunia teater yang sedang digeluti anak muda. “Karena bertepatan dengan peristiwa duka, pentas ini ada juga untuk apresiasi ke beliau sebagai aktor senior Indonesia, sekaligus aktor yg pernah memerankan sosok Kabayan,” imbuh Manik Pramiteung.
“Teater enggak akan pernah mati. Teater akan tetap jadi ladang untuk berekspresi dan mengapresiasi,” pungkas Manik. (rin/man/ong)

Ekspresi