COWOK-COWOK berambut gondrong berhamburan keluar kelas. Saat itu waktu menunjukan pukul 13.30 WIB. Meski matahari terik menyinari, tapi SMA Kolese De Britto ato sekolah homogen yang berlokasi di Jalan Solo itu tetap teduh. Karena sebagian besar sekolah itu terlindungi puluhan pohon berumur ratusan tahun. Suasananya makin sejuk karena sekolah itu didominasi cat warna hijau tua.Saat jam pulang sekolah itu ada satu sudut De Britto yang menarik untuk dicermati. Sudut menarik itu adalah perpustakaan. Ya, perpustakaan De Britto yang sebelumnya keliatan sepi itu langsung dipenuhi puluhan siswa. Mereka ada yang datang untuk mengembalikan buku. Tapi ada sebagian lainnya yang meminjam buku. Sebagian lainnya ada yang menghidupkan laptop dan melakukan aktivitas belajar kelompok di perpustakaan inti.
Dinamika rutin yang terjadi di perpustakaan itulah yang kemudian menjadikannya semakin itimewa. Pada tanggal 7 Juli 2014 perpustakaan SMA Kolese De Britto terpilih sebagai juara pertama lomba perpustakaan tingkat SMA/SMK Negeri dan Swasta Se- D.I. Jogjakarta. Maka perpustakaan SMA Kolese De Britto dipilih menjadi wakil D.I. Jogjakarta untuk maju dalam lomba di tingkat nasional. Dan pada Kamis (28/9) lalu, SMA Kolese De Britto kedatangan tamu yang tak lain adalah tim juri. Mereka antara lain Drs Sudirman Hamid MM dan Drs Nurcahyono SS MSi dari Perpustakaan Nasional Jakarta. Kunjungan mereka bertujuan melakukan penilaian. Mereka ditemani Wakil Bupati Sleman Hj Yuni Satia Rahayu SS Mhum, beserta staf BPAD D.I. Jogjakarta, KPD Sleman, Kepala Dinas Pendidikan Sleman dan rombongan lainnya.
“Jujur, menurut saya, perpustakaan SMA ini sudah bagus. Ada banyak koleksi, fasilitas dan program yang membuat saya kagum. Hanya saya belum bisa menebak apakah akan menjadi yang terbaik dari 33 provinsi lain. Karena kunjungan kami baru dilakukan di 7 provinsi,” ujar Sudirman Hamid. Perpustakaan SMA Kolese De Britto memang punya banyak program dalam rangka memenuhi kebutuhan siswa. Di antaranya selalu menambah jumlah koleksi buku tiap dua bulan sekali sesuai permintaan guru dan siswa. Selain itu kegiatan perpustakaan juga beragam, seperti diskusi, talkshow dan bedah buku bersama pengarang. Kepala perpustakaan De Britto Drs AM Henky Irawan mengatakan, persiapan menyambut kompetisi tingkat nasional ini dilakukan dalam waktu satu bulan. Dengan melakukan pembenahan di berbagai lini yang masih dirasa kurang.
“Kami melakukan berbagai perbaikan dengan harapan agar perpustakaan bisa berfungsi secara baik dan optimal. Selain itu kami juga mendapatkan pembinaan dari tim perpustakaan Sleman. Jadi memang sudah benar-benar kami persiapkan,” ungkapnya. Menurut Pustakawan De Britto, Stefanus Ganang, keberhasilan ini terwujud karena perpustakaan enggak lagi dipandang sebagai tempat yang kaku dan membosankan. “Kami enggak hanya menyediakan buku pelajaran aja, tapi juga majalah, novel ,video, film dokumenter, serta tv kabel yang siarannya dapat dinikmati siswa. Jadi perpustakaan juga jadi pusat informasi,” jelasnya. Dari 33 provinsi yang ikut dalam kompetisi, akan dipilih 10 provinsi terbaik yang kemudian akan diminta melakukan presentasi di Jakarta pada bulan Oktober mendatang. Di sana akan ditentukan siapa yang berhak mendapatkan trophy terbaik perpustakaan se-Indonesia. (ata/man)

Ekspresi