JOGJA – Almarhum S. Sudjojono memiliki peran besar dalam perkembangan dunia lukis di Indonesia. Karena karyanya yang sangat mencerminkan nasionalisme pada Indonesia. Berangkat dari situ, Langgeng Art Foundation (LAF) mengapresiasi pemikiran seniman lukis ini dengan mengadakan kompetisi Menulis Esai Seabad S. Sudjojono dan Karyanya 1913-2013.
Pendiri LAF Deddy Irianto mengungkapkan esai ini sebagai upaya merajut dan melacak kembali pandangan-pandangan Sudjojono.Deddy menambahkan esai yang digarap ini mengambil dari sepuluh karya lukis milik S. Sudjojono. “Peran beliau dalam perkembangan dunia lukis Indonesia sangatlah besar. Dimana melahirkan ragam pemikiran baru yang mengajak keluar dari gaya barat. Melihat keindahan objek dari sisi yang baru dan ragam pemikiran lainnya,” kata Deddy belum lama ini.
Deddy menambahkan berkat pemikirannya ini, Sudjojono mampu mempengaruhi pola pikir pelukis muda. Bahkan berkat pemikirannya ini Sudjojono dinobatkan sebagai Bapak Seni Lukis Baru Indonesia pada tahun 1940. Sementara itu, salah satu juri esai Aminudin TH Siregar yang akrab disapa Ucok menganggap sosok Sudjojono adalah seorang pendobrak. Keluar dari kebiasaan yang membudaya, menurut Ucok, adalah hal yang sulit. Terlebih kebiasaan ini sudah mengakar kuat dalam dunia lukis Indonesia.
Ucok mengisahkan saat Sudjojono dengan berani mengkritik gaya lukis seorang Basuki Abdullah. Dalam kritik yang ditulisnya, Sudjojono menganggap lukisan Basuki Abdullah tidak mencerminkan Indonesia. Bahkan Sudjojono berani menganggap pelukis senior ini belum memahami menjadi Indonesia. “Waktu itu Basuki Abdullah sedang berpameran di Jakarta pada akhir 1930an. Lukisan yang disajikan berupa gambar jembatan biasa dengan gunung biru di belakangnya. Inilah yang menurut Sudjojono sangat tidak Indonesia,” kata Ucok.
Secara spesifik Ucok menjelaskan alasan Sudjojono kurang menyukai gaya lukis para maestro pada waktu itu. Pertama adalah masih adanya nuansa peninggalan kolonial Belanda. Dimana para pelukis ini lebih cenderung melayani pasar. Dalam pemikirannya, Sudjojono menganggap pelukis-pelukis pribumi awalnya sebagai plagiator seni lukis kolonial. Dimana belum mampu menemukan warnanya sendiri dalam bereksperimen. Sehingga corak yang dihasilkan memiliki kemiripan dengan seniman asing pendahulu.
Sementara itu, dari ratusan esai yang masuk terpilihlah tiga esai yang sangat mencerminkan Sudjojono. Esai ini merupakan pengembangan dari karya lukis milik Sudjojono. Mereka adalah Martin Suryajaya dari Jakarta, Mohammad Hadid dan Stanislaus Yangni dari Jogjakarta. “Ketiganya mampu menghidupkan dan mengintrepretasikan karya lukis menjadi sebuah tulisan. Tentunya ini sangatlah patut untuk diapresiasi, selain itu juga mengabadikan pemikiran almarhum S. Sudjojono,” kata Ucok. (dwi/ila)

Ekspresi