Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dolar AS Tembus Rp 17 Ribu, Rupiah Anjok: Eskalasi Geopolitik AS-Isral dan Iran Jadi Pemicu Utama

Meitika Candra Lantiva • Senin, 9 Maret 2026 | 13:20 WIB

Ilustrasi rupiah dan dolar.
Ilustrasi rupiah dan dolar.

RADAR JOGJA - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang rupiah berada di puncak tertinggi di sepanjang sejarah perdagangan pada Senin (9/3/2026).

Angkanya mencapai Rp 17 ribu per dolar AS.

Jumlah tersebut terus mengalami kenaikan hingga level Rp 17.090 per dolar AS.

Dihimpun dari Bloomberg, angka rupiah semakin melemah penyebab utamanya dipicu sentiment global adanya eskalasi AS dan Israel kepada Iran yang mengerek harga komoditas minyak semakin tinggi.

Akibanya, pada pekan ke dua bulan Maret, rupiah semakin melemah hingga 84 poin atau sebanyak 0,50 persen terhadap mata uang AS ke level 17.090 per dolar AS.

Pergerakan ini terjadi sejak pukul 09.03 WIB.

Padahal pada Jumat (6/3/2026) nilai tukar rupiah berada di posisi 16.925 perdolar AS.

Melihat kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate menempatkan posisi rupiah terhadap AS yaitu mencapai posisi Rp 16.919 per dolar AS.

Dalam sepekan, rupiah mengalami penyusutan tajam.

Pada hari ini, Senin (9/3/2026), rupiah anjlok 0,82 persen atau 138 poin dibandingkan akhir pekan lalu, Jumat (27/2/2026) yang berada di level Rp 16.787 per dolar AS.

Kondisi pasar hari ini berdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (ISHG).

Melansir dari Cryptowave, ISHG terkoreksi signifikan sebesar 5,56 persen ke posisi 7.164,28 dengan mayoritas saham 658 emiten berada di zona merah.

Harga emas pun turut terdampak.

Harga emas antam mengalami penurunan mencapai Rp 55.000 menjadi Rp 3.004.000 per gram.


Proyeksi analis memperkirakan fluktuasi rupiah disebabkan eskalasi geopolitik ketegangan militer AS-Israel dan Iran. 

Perang yang semakin memanas dan berlangsung sejak Februari lalu menyebabkan ketidakpastian pasar hingga lonjakan harga minyak yang tembus di atas US$100 per barel.

Sehingga semakin memicu kekhawatiran inflasi global dan beban fiskal domestik.

Adanya sentimen "Risk Off" membuat investor global cenderung mengalihkan dana mereka ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS, yang menekan mata uang negara berkembang seperti Indonesia. (mel)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Israel #Dolar #ishg #dolar as #eskalasi geopolitik #pemicu utama #rupiah anjlok #as #iran #nilai tukar rupiah