KEBUMEN - Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Karangsari, Kecamatan Kebumen menunjukkan tren kinerja positif pada tahun 2025. Berdasar hasil rekap tutup buku akhir tahun, BUMDes tersebut mampu mencatat laba surplus mencapai Rp 111 juta.
Direktur BUMDes Mapan Desa Karangsari Sri Brimawati bersyukur torehan laba dapat melebihi target yang ditentukan. Ia menyebut jika dibandingkan tahun sebelumnya kenaikan laba tahun 2025 mencapai 31 persen. Di mana pada tahun 2024 perolehan laba hanya sebesar Rp 76,2 juta.
"Alhamdulillah, peningkatan laba ini berarti ada peningkatan juga buat pendapatan desa," jelasnya, selepas Musyawarah Desa (Musdes), Jumat (30/1).
Sri menerangkan, dari hasil laba yang diperoleh selanjutnya akan dibagi untuk beberapa komponen. Masing-masing pengembalian modal sebesar 50 persen. Dialokasikan untuk kelembagaan 17 persen dan dana sosial sebesar 10 persen.
Laba tersebut juga disetorkan untuk Pendapatan Asli Desa (PADes) 21 persen. Sisanya, sebesar 2 persen diberikan untuk penghargaan. "Upaya kami meningkatkan pendapatan desa lewat sektor usaha," katanya.
BUMDes Desa Karangsari sendiri kini mengelola tiga unit usaha. Yakni, merambah sektor perdagangan dengan kehadiran dua toko ritel. Selain itu, ada juga di sektor perkebunan sebagai bentuk ketahanan pangan. Lalu, usaha di sektor jasa transaksi keuangan.
Dalam waktu dekat, kata Sri, BUMDes yang ia kelola akan mulai mencoba menyasar program skala prioritas pemerintah. Salah satunya sebagai penyedia bahan untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pihaknya juga akan berkolaborasi dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). "Di wilayah kami ada dua SPPG, nantinya coba akan kami suplai," katanya.
Camat Kebumen Karyanto mengapresiasi catatan positif BUMDes Karangsari. Dia mengungkapkan, selama ini badan usaha desa tersebut selalu surplus dari sisi pendapatan. Tak jarang BUMDes itu menjadi obyek percontohan bagi desa lain, baik di Kebumen maupu luar daerah.
Dia mendorong keberadaan BUMDes mampu menjadi solusi tantangan desa ke depan. Menurutnya desa akan mengahadapi tantangan nyata seiring berkurangnya Dana Desa (DD).
Di mana rata-rata DD setiap desa dipangkas mencapai Rp 700 juta. "Harapan kami PADes melalui BUMDes dapat mendukung program kegiatan di desa," ujarnya. (fid/pra)
Editor : Heru Pratomo