Dinilai Efektif Bantu Promosi Produk Khas Jogja, Peranan Dana Keistimewaan dalam Memajukan Industri Kecil Menengah

Agung Dwi Prakoso • Dipublikasikan Selasa, 22 Juli 2025 | 14:00 WIB

 

KHAS JOGJA: Peragaan busana batik dalam acara Jogja Fashion Week. Agenda tahunan itu merupakan bentuk fasilitasi pemerintah daerah dengan dukungan dana keistimewaan terhadap sektor industri.
KHAS JOGJA: Peragaan busana batik dalam acara Jogja Fashion Week. Agenda tahunan itu merupakan bentuk fasilitasi pemerintah daerah dengan dukungan dana keistimewaan terhadap sektor industri.

JOGJA - Pengembangan sektor industri dan perdagangan bukan hanya didukung dari anggaran yang bersumber dari pendapatan asli daerah (PAD). Namun juga dari dana keistimewaan (danais). Bahkan sejak 2013, pelaksanaan tugas pembangunan Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY mendapatkan dukungan danais. Khususnya sejumlah industri yang memproduksi berbagai produk khas Jogja.

“DIY memiliki potensi industri yang cukup tinggi,” ucap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY Yuna Pancawati di kantornya Senin (21/7).

Tingginya potensi itu tercermin dari kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi DIY. Setiap tahun terus meningkat.  Misalnya, 2023, sektor industri menyumbang sebesar 11,82 persen atau sekitar Rp 13,44 triliun. Setahun kemudian meningkat menjadi 11,83 persen atau Rp 13,92 triliun pada 2024. Ada tiga industri utama yang menjadi penyumbang terbesar.

“Makanan dan minuman, tekstil dan pakaian ditambah industri barang logam," tambah Yuna.

Sebagian besar industri di DIY berskala kecil dan menengah. Totalnya ada sebanyak 102.787 industri kecil dan menengah (IKM). Keberadaannya tersebar  di dalam maupun luar sentra industri yang memproduksi berbagai produk khas Jogja. Sampai saat ini jumlahnya ada 245 sentra IKM se-DIY.

 Menyadari banyaknya jumlah industri yang memproduksi produk khas Jogja, Yuna beserta jajarannya mengambil beberapa langkah. Salah satunya, dengan memanfaatkan alokasi danais untuk kegiatan promosi produk.Di antaranya, dengan mengadakan even tematik. "Melalui promosi yang tepat, produk khas Jogja semakin dikenal masyarakat," paparnya.

Secara umum, danais digunakan untuk pembinaan sektor industri. Fokusnya peningkatan produksi, pengembangan pemasaran, dan penguatan kelembagaan. Peningkatan pemasaran dilakukan melalui penyelenggaraan pameran, festival, fasilitasi partisipasi dalam pameran, dan kegiatan promosi lainnya. 

Implementasinya antara lain dengan menciptakan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) bertepatan dengan Hari Batik Nasional  2 Oktober 2014. Melibatkan 3.000 pembatik. Kain sepanjang 3.000 meter dan lebar 45 cm tanpa putus. Terbuat dari kain tenun ATBM (bukan mesin) serta  dibatik dalam waktu 1 jam.

Lalu Jogja Fashion Week. Setiap tahun, sedikitnya 100 produsen brand fashion dan beauty berbagai daerah ikut berpartisipasi. Ditambah 40 brand lokal DIY. Dilanjutkan festival batik dan fasilitasi pameran dalam negeri seperti Kriya Nusa, dan Pekan Raya Jakarta (PRJ).

Saban tahun rata-rata 40 IKM difasilitasi ikut PRJ dan empat IKM untuk Kriya Nusa. Selain itu, fasilitasi misi dagang dan pameran luar negeri. Pelaku industru khas Jogja difasilitasi mengikuti pameran dan misi dagang di luar negeri, seperti Hong Kong Fashion Week, Moscow International Fashion Fair, Dubai Expo, Indonesia Festival di Frankfurt, dan misi dagang ke Arab Saudi.

Tahun 2025 ini dengan dukungan danais diadakan berbagai kegiatan dengan tujuan meningkatkan promosi produk khas Jogja. Setelah memfasilitasi pelaku IKM agar dapat mengikuti pameran seperti JIFFINA, INNACRAFT, TEI, dan IFEX, Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY akan terus mendukung mereka mengikuti pameran-pameran lain seperti Kriya Nusa, PRJ, Jogja Fashion Week, dan JIBB. (oso/kus)

 

 

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
dana keistimewaan Jogja Fashion Week Batik Produk Khas Jogja dinas perindustrian dan perdagangan Ekonomi DIY IKM