Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pelemahan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Ancaman bagi Importir, Peluang untuk Eksportir 

Winda Atika Ira Puspita • Kamis, 18 April 2024 | 16:10 WIB

 

elemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dikhawatirkan berdampak terhadap pelemahan daya beli masyarakat.
elemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dikhawatirkan berdampak terhadap pelemahan daya beli masyarakat.

RADAR JOGJA - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dikhawatirkan berdampak terhadap pelemahan daya beli masyarakat. Sebab, kenaikan dolar terhadap nila tukar rupiah praktis akan berdampak terhadap kenaikan inflasi daerah jika tak ada intervensi. 

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIJ Syam Arjayanti mengatakan, dampak pelemahan rupiah jika berlanjut maka akan meningkatkan inflasi. Terutama bahan-bahan pangan atau bahan baku seperti pakan, obat-obatan dan lain-lain. Atau bahan pendukung industri lainnya yang tergantung dari impor luar negeri. "Hal ini bisa berdampak kenaikan harga barang dan pelemahan daya beli masyarakat," katanya kepada Radar Jogja Rabu (17/4). 

Syam menjelaskan sejauh ini hasil komunikasi dengan distributor dan para pengusaha, belum berdampak signifikan terhadap kenaikan harga sejumlah bahan pangan dan barang. Namun, hal ini perlu dilakukan antisipasi. 

Di sisi yang lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga ada potensi dalam hal ekspor. Volume dan nilai ekspor bisa meningkat. 

Maka eksportir atau pengusaha diharapkan bisa memvariasikan dan menganekaragaman produk, usaha, jenis aset, investasi, dan sebagainya untuk mensikapi ini.  "(Eksportir) bisa mencari peluang diversifikasi ekspor dan bisa meningkatkan daya saing produk DIJ," ujarnya. 

Namun demikian, Syam menyebut untuk jangka pendeknya belum terlihat ada dampak yang signifikan terjadi di kalangan eksportir terkait kenaikan dolar terhadap nilai tukar rupiah ini. Pun laporan kerugian tentang hal ini juga belum diterimanya. 

"Karena kan mereka biasanya sudah dikontrak ada inden pembelian untuk beberapa bulan ke depan jadi harganya seperti saat kontrak di awal," jelasnya . 

Menurutnya, ketika terjadi pelemahan nilai tukar maka ekspor dimungkinkan akan lebih untung. Namun dari sisi impor justru terdapat tekanan. Sebab barang yang dibeli dari negara lain harus dibayar lebih mahal. 

Disperindag DIJ akan melakukan strategi dalam hal menghitung ulang biaya produksi, biaya jual. Hal ini untuk mencegah kerugian di tingkat pelaku industri kecil menengah (IKM). "Supaya ini tidak mengalami kerugian dan tentu kalau perjanjian di awal dirembug lagi dengan buyer-nya kan," tambahnya. 

Adapun, dampak paling berpengaruh Syam merinci adalah terkait barang-barang impor seperti bahan pangan yang paling banyak mengalami kenaikan.  "Misal terigu, bawang putih itu kan banyak tergantung dari luar negeri dan perlu kita waspadai sih," sambung mantan Wakil Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIJ itu. 

Upaya lain, instansi ini juga terus melakukan gelar pangan murah maupun pasar murah, operasi pasar untuk stabilisasi harga. "Semoga daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan juga ya," imbuhnya. (wia/pra)

 

Editor : Satria Pradika
#dolar amerika #Disperindag