Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Usung Konsep Tempo Dulu, Toendjoeng Djaja Hadir di Magelang

Naila Nihayah • Sabtu, 23 September 2023 | 00:02 WIB

 

 

BUKA CABANG: Kedai kopi Toendjoeng Djaja kini hadir di Magelang. Tepatnya di Pasar Kebonpolo, Kota Magelang. (NAILA N/RADAR JOGJA)
BUKA CABANG: Kedai kopi Toendjoeng Djaja kini hadir di Magelang. Tepatnya di Pasar Kebonpolo, Kota Magelang. (NAILA N/RADAR JOGJA)

RADAR JOGJA - Dengan mengusung konsep tempo dulu, kedai kopi Toendjoeng Djaja mulai melebarkan sayap di Magelang. Tepatnya di Pasar Kebonpolo, Kota Magelang. Kedai ini baru dibuka secara resmi pada Senin (11/9) lalu. Tak hanya menyediakan kopi sebagai sajian utama, tapi juga berbagai minuman dan makanan tradisional.

Tidak seperti kebanyakan kedai kopi lainnya, di Toendjoeng Djaja, penikmat kopi dapat melihat secara langsung proses roasting biji kopi. Aroma khas kopi menguar bebas saat mesin roaster mulai bekerja. Membuat siapapun bakal tertarik untuk meraup aromanya dengan rakus.

Kang Konsep Toendjoeng Djaja Andreas Setyawan menuturkan, Magelang dipilih menjadi lokasi kedua kedai kopinya. Sebab, dia melihat peluang yang cukup besar di Magelang. Mengingat masih sedikitnya warung kopi (warkop) atau coffee shop. Berbeda dengan di Jogja, yang jumlahnya sudah bejibun.

Memang, selain di Magelang, Toendjoeng Djaja memiliki kedai pertama di Jogja. Konsepnya pun dibuat sama, yakni ngopi di pasar. Semula, Andreas berencana mencari lokasi kedai baru di Jogja. Namun, tempatnya kurang mendukung dan dirasa kurang cocok.

"Terus iseng nyari (lokasi baru) di Magelang. Di Pasar Rejowinangun itu belum ada yang kosong. Akhirnya ke sini (Pasar Kebonpolo, Red) lihat-lihat. Ternyata dapat (ruko) dan trotoarnya cukup luas," ujarnya saat ditemui, Kamis (21/9).

Karena mengusung konsep tempo dulu, menu yang tersaji, juga disesuaikan. Bahkan, di daftar menunya menggunakan ejaan lawas. Seperti kopi toebroek, kopi soesoe, kopi djahe, djeroek, hingga pisang tjotjol. Harga yang dibanderol pun terbilang ekonomis dan ramah di kantong. Mulai dari Rp 3 ribu.

Kopi yang disajikan, kata dia, berasal dari petani secara langsung. Yang diambil dari petani kopi robusta di Temanggung, kopi gayo dari Aceh, kopi liberika atau perpaduan robusta dan arabika dari lereng Gunung Lawu, dan kopi kintamani dari Bali.

Untuk menambah nuansa tempo dulu, kedai kopi ini memutar lagu-lagu legendaris, khas tahun 1990-an. "Kalau di sini, identik dengan identitas brand-nya. Kami juga memutar playlist tempo dulu dan lebih banyak berinteraksi dengan pengunjung," beber Andreas.

Sebagai awalan, Toendjoeng Djaja dibuka mulai pukul 09.00 sampai 21.00. Ketika nantinya dirasa mulai ramai dan animo penikmat kopi semakin tinggi, jam operasional akan disamakan dengan kedai di Jogja. Yakni hingga pukul 24.00.

Dia berharap, kehadiran Toendjoeng Djaja dapat mengenalkan kedai kopi dengan kualitas yang baik dan harganya ekonomis. "Nanti kami bakal masif menjual kopi bubuk seperti di Jogja. Kalau sementara ini, belum. Karena masih penjajakan," jelasnya.

Selain itu, harapannya, ke depan bakal ada kedai kopi Toendjoeng Djaja di kota-kota lain. Seperti Klaten, Solo, bahkan Semarang. "Kalau yang lebih besar, nanti bakal ada Toendjoeng Djaja reserve. Itu yang skala seperti coffe shop, tapi lebih premium. (Rencananya) di Solo atau Semarang," imbuhnya. (sce/aya/ila)

Editor : Reren Indranila
#Magelang #Kopi #Ekonomis