Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BPS Sebut Belanja Makanan Warga DIY Naik, Tekanan Biaya Hidup Menguat

AA
BERTAHAN: Pedagang keliling menawarkan dagangan kemarin (18/10). Pelaku usaha mikro terus berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup di tengah tekanan ekonomi yang belum menentu. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
BERTAHAN: Pedagang keliling menawarkan dagangan kemarin (18/10). Pelaku usaha mikro terus berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup di tengah tekanan ekonomi yang belum menentu. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

Advertisement

 

JOGJA - Kenaikan pengeluaran masyarakat DIY belum tentu mencerminkan peningkatan daya beli yang merata. Di tengah naiknya pengeluaran untuk kebutuhan makanan, pertumbuhan belanja bukan makanan justru lebih rendah. Kondisi ini menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati dalam melihat tekanan biaya hidup masyarakat.

Statistisi Muda Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Rio Jakaria mengatakan, indikator pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan dalam komponen standar hidup layak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat secara rata-rata.

Advertisement

Berdasarkan data BPS DIY, pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan pada 2025 mencapai Rp 15,855 juta per tahun. Angka itu naik Rp 494 ribu atau 3,22 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp 15,361 juta per tahun.

Namun, indikator itu belum menggambarkan kondisi seluruh kelompok masyarakat. Rio mengingatkan angka rata-rata tersebut tidak langsung menunjukkan seluruh lapisan masyarakat mengalami peningkatan kesejahteraan yang sama. Perubahan pengeluaran dapat dipengaruhi pertumbuhan ekonomi, perubahan pendapatan, hingga kenaikan harga barang dan jasa.

“Bisa jadi peningkatan ini tidak dirasakan oleh sebagian yang di bawah, tetapi dirasakan oleh sebagian yang di atas,” ujar Rio saat ditemui Radar Jogja di Kantor BPS DIY, Kamis (15/10) lalu.

Perbedaan pertumbuhan pengeluaran makanan dan bukan makanan menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), rata-rata pengeluaran makanan per kapita sebulan di DIY meningkat dari Rp 766.284 pada 2025 menjadi Rp 815.890 pada 2026. Dengan demikian, pengeluaran makanan bertambah sekitar Rp 49.606 per kapita per bulan.

Sementara itu pengeluaran bukan makanan naik dari Rp 1.076.928 menjadi Rp 1.097.927 per kapita per bulan atau bertambah sekitar Rp 20.999.

Data tersebut menunjukkan kenaikan nominal pengeluaran makanan lebih besar dibandingkan bukan makanan. Namun perbedaan itu belum cukup untuk memastikan bahwa masyarakat telah mengurangi belanja kebutuhan lain.

Rio menjelaskan, kenaikan pengeluaran tidak selalu berarti kemampuan ekonomi masyarakat semakin baik. Tambahan belanja bisa saja terserap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat kenaikan harga. “Jadi walaupun mungkin pengeluaran naik, terus pendapatan naik, itu belum tentu,” ujarnya.

Advertisement
Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pengamat Ekonomi UAJY Sebut Belum Pulih dari Pandemi, UMKM Sudah Dihimpit Kebijakan Pemerintah

Pengamat Ekonomi UAJY Sebut Belum Pulih dari Pandemi, UMKM Sudah Dihimpit Kebijakan Pemerintah

Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kini mulai dihimpit dengan kondisi ekonomi. UMKM yang sempat dihantam pandemi dan berangsur pulih, kini justru ditekan kebijakan pemerintah secara tidak langsung. Sejumlah UMKM di

Pelaku UMKM Kuliner di Tengah Persaingan Usaha dan Tekanan Ekonomi

Pelaku UMKM Kuliner di Tengah Persaingan Usaha dan Tekanan Ekonomi

Ekonomi makro sedang tidak baik-baik saja. Maraknya persaingan usaha dan melonjaknya harga bahan baku mengancam keberlangsungan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Lalu, bagaimana para pelaku usaha, terutama di sektor

Kunjungan Wisatawan di Desa Wisata Bantul Tembus 360 Ribu, Pemkab Bidik Pemerataan Ekonomi

Kunjungan Wisatawan di Desa Wisata Bantul Tembus 360 Ribu, Pemkab Bidik Pemerataan Ekonomi

Kunjungan wisatawan ke desa wisata di Kabupaten Bantul menembus lebih dari 360 ribu orang hingga September 2026. Capaian tersebut menjadi peluang bagi Pemerintah Kabupaten Bantul untuk memperluas manfaat pariwisata ...

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer