RADAR JOGJA – General Manager Space Roastery Jogja, Slamet Kurniawan mengatakan, usahanya kini semakin maju setelah bergabung dengan Tokopedia. Coffee shop yang berdiri 2016 dan berslogan Same Shit Different Day tersebut kini, paling tidak dalam sebulan ada 2.000 pembeli, dengan sekitar 3.000 pesanan pack kopi lewat Tokopedia. Tokonya di Tokopedia memiliki 17.000 follower. Slamet memberdayakan petani kopi lokal.

Kenaikan pembelian yang signifikan tersebut, kata Slamet, tidak terlepas dari langkah dia masuk digital marketing melalui Tokopedia.

“Same Shit Different Day tersebut bisa diartikan filosofi yang berlaku sehari-hari bagi kami. Pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang (coffee roastery), dan dalam jangka panjang. Harga per pack Rp 100 ribu,” ujar Slamet yang memiliki coffee shop di bilangan Rogoyudan, Sinduadi, Mlati, Sleman tersebut.

Pengakuan Slamet tersebut terungkap saat digelar Tokopedia & Indef Research Roadshow. Bertajuk
“Inisiatif Hyperlocal: Kontribusi Tokopedia untuk Geliat UMKM Nasional” yang berlangsung di Hotel Harper Jogja, Rabu 25 Januari 2023.

Hadir sebagai narasumber, selain Slamet, Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Jogja, Tri Karyadi Riyanto Raharjo; Kepala Divisi Kebijakan Publik dan Hubungan Pemerintah Daerah Tokopedia, Emmiryzan; dan peneliti Lembaga Riset Independen Indef (Institute for Development of Economics and Finance), Nailul Huda.

“Kota Jogja menurut penelitian kami, memiliki tingkat perkembangan digital marketing cukup tinggi,” ujar Huda.

Dikatakan Huda, device yang dimiliki warga, kebanyakan hanya digunakan untuk chatting. Bukan untuk pengembangan produktivitas. Ekonomi digital perlu adanya kolaborasi antar-stakeholder. Antara lain, pemerintah dan sektor swasta.

“Kemajuan UMKM tak bisa maju pesat, jika tidak dibantu Tokopedia,” ujar Huda.

Indef, lanjutnya, memberikan insights, bagaimana membuat kebijakan yang tepat melalui riset yang dilakukan.

“Temuan kami, kota yang memiliki program hyperlocal, UMKM-nya lebih tinggi penjualan dan omzetnya. Kondisi kemiskinan menjadi lebih baik dengan adanya hyperlocal. Menahan laju pengangguran. Dan berdampak positif terhadap UMKM lokal,” kata Huda.

Hyperlocal merupakan inisiatif Tokopedia untuk mendekatkan penjual dengan pembeli di manapun berada. Agar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh Indonesia punya kesempatan sama bertumbuh dan berkembang.

“Tanpa harus pindah ke kota besar. Dan pembeli bisa mendapatkan produk kebutuhan yang lebih beragam dengan lebih cepat dan efisien,” ujar Emmiryzan.

Inisiatif Hyperlocal memiliki berbagai contoh manifestasi, seperti layanan pemenuhan pesanan (fulfillment) Dilayani Tokopedia, Kumpulan Toko Pilihan (KTP), serta kampanye PASTI (Paket Sehari Tiba).

“Dan masih banyak lagi yang dapat dimanfaatkan oleh para pegiat UMKM. Di Indonesia ada sekitar 65 juta UMKM. Terbesar di ASEAN,” kata Emmiryzan.

Dikatakan, sebanyak 99 persen kecamatan sudah terjangkau program hyperlocal Tokopedia tersebut.

“Tidak hanya di Kota Jogja, kami pun memberdayakan UMKM yang berada di pelosok. Misalnya, jika ada UMKM yang ingin memasarkan produk di Tokopedia, kami memiliki layanan logistik yang akan datang mengambil produk tersebut. Pelaku UMKM cukup meminta kurir untuk mengambil,” kata Emmiryzan yang pernah tinggal di Caturtunggal, Depok, Sleman tersebut.

Sedangkan Tri Karyadi mengatakan bahwa literasi digital masih rendah di Kota Jogja.

“Untuk go digital berbagai upaya kami lakukan. Antara lain, sinergi dan kolaborasi dengan stakeholder. Salah satunya dengan Tokopedia ini,” ujar Totok, sapaan Tri Karyadi. (*/iwa/dwi)

Ekonomi