RADAR JOGJA – Program kartu pra kerja tak sepenuhnya berjalan mulus. Salah satu permasalahan adalah munculnya joki. Tujuannya hanya satu, meraih untung tanpa harus mengikuti program secara tuntas.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi praktek joki kartu pra kerja. Dia menegaskan program kartu pra kerja saat ini lebih ketat. Pengawasan ini membuat celah kecurangan para joki kartu pra kerja lebih mudah terdeteksi.

“Ya kalau joki sebetulnya sudah bisa kami tangkap. Kami juga sudah antisipasi juga dengan sistem pengenal wajah atau face recognition. Beberapa aplikasi kan ada, terutama di e-wallet,” jelasnya ditemui di acara alumni penerima kartu prakerja Jogjakarta, di Pengilon Cafe Sleman, Jumat (8/10).

Airlangga menegaskan bahwa joki kartu pra kerja adalah tindakan pindana. Sehingga tindakan tersebut bisa dilaporkan ke kepolisian. Jajarannya sudah menjaring temuan joki kartu pra kerja. Untuk kemudian berlanjut dengan pelaporan ke Bareskrim Polri.

Disatu sisi dia juga meminta masyarakat lebih hati-hati. Tidak asal meminjamkan identitas KTP ke setiap orang. Apalagi adanya iming-iming setoran uang dalam beberapa bulan kedepannya.

“Jangan mau dipinjam KTPnya kalau tujuannya enggak jelas. Bisa jadi dicoba-coba untuk daftar kartu prakerja. Kalau ini terlihat dalam arti ketahuan, ini sedang diproses di Bareskrim,” katanya.

Sayangnya Airlangga tidak menyebutkan secara rinci jumlah kasus. Hanya saja dia memastikan bahwa seluruhnya sudah dalam proses pemeriksaan. Seluruhnya telah ditangani oleh Bareskrim Polri.

“Ada beberapa,” ujarnya.

Ketua Korwil Alumni Pra Kerja Jogjakarta Nurul Hesti menemui secara langsung penyelewengan tersebut. Beberapa kali dia menemui fenomena ini di wilayah perkampungan. Modusnya dengan menyasar warga lanjut usia untuk meminjam KTP-nya. Setelahnya memberikan iming-iming uang bulanan.

“Pinjam KTP dan KK milik simbah-simbah. Terus simbah-simbah itu diiming-imingi Rp 200 ribu per bulan,” katanya.

Bujuk rayu ini tentu berbuah manis. Terlebih para lansia telah mendapatkan janji uang bulanan. Alumni kartu pra kerja angkatan 4 inipun tak berdiam diri. Dia bersama teman-temannya terus giat memberikan edukasi.

Nurul juga meminta Kemenko Perekonomian mengawasi secara ketat program kartu pra kerja. Setidaknya dengan menyeleksi secara ketat calon penerima. Selain itu juga melakukan verifikasi sebagai bentuk antisipasi joki kartu pra kerja.

“Berharap terbentuknya komunitas dari para alumni kartu prakerja ini juga bisa membantu. Bisa menjelaskan nilai-nilai lebih yang didapatkan dari program kartu prakerja sehingga masyarakat yang sesuai kriteria bisa ikut tanpa harus lewat joki,” ujarnya. (dwi)

Ekonomi