RADAR JOGJA  Holding Ultra Mikro (UMi) yang mengintegrasikanekosistem usaha milik BRI Pegadaian dan PNM dinilai bukansekadar aksi korporasi biasa, tetapi juga diproyeksikan bakalmemberi banyak manfaat untuk masyarakat pelaku usaha.

Diakui berbagai pihak, kolaborasi ketiga BUMN yang dikenalberfokus pada pemberdayaan usaha mikro dan ultra mikrotersebut tidak hanya akan mendorong sumber pertumbuhan barubagi masing-masing entitas melalui holding, namun kolaborasiperusahaan pelat merah yang terintegrasi dalam holding tersebutjuga akan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagikepentingan masyarakat banyak.

Terkait hal tersebut Direktur Utama BRI Sunarso mengatakanaspirasi perseroan untuk mengembangkan segmen usaha ultra mikro melalui holding sejalan dengan rencana pemerintahmeningkatkan peran BUMN sebagai agen pencipta nilai dan pembangunan, untuk mendukung pertumbuhan perekonomiannasional khususnya pada sektor UMKM. Pembentukan holding UMi tidak hanya dapat memberikan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi BRI, Pegadaian, maupun PNM. Namun juga bagi para pelaku usaha yang termasuk dalam segmen ini,ungkapnya.

Holding ini akan menyediakan layanan keuangan kepada para pengusaha ultra mikro dengan lebih terintegrasi dalam satuekosistem. Artinya, layanannya dapat end to end, proses pertumbuhan atau peningkatan kapabilitas nasabah ultra mikropun dapat lebih dimonitor dengan baik, sehingga dapat melayanidengan lebih efektif dan efisien,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam rangka pembentukan Holding Ultra Mikro, BRI dengan mekanisme Penambahan Modal Dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) telah mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham dalamRapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis (22/7) lalu.

Turunkan Praktik Rentenir

Banyaknya manfaat Holding Ultra Mikro bagi pelaku UMKM,juga diakui oleh Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi). KetuaBidang Infokom DPP Ikappi Reynaldi Sarijowan mengatakanpihaknya mendukung sinergi BRI, Pegadaian dan PNM melaluiholding ini. Langkah strategis ini dinilai dapat menurunkan sukubunga pinjaman sekaligus memperbaiki rantai pasok pelaku usahamikro nasional. “Pada dasarnya kami selalu mendukung upayapemerintah. Sepanjang hal ini berimbas baik pada kinerja pelakumikro, dan bukan malah membuat mencekik lagi,” katanya.

Dia mengatakan pelaku mikro saat ini tengah berada kondisi yang sulit karena menghadapi tunggakan pinjaman akibat menurunnyaomzet harian hingga 60% setelah ekonomi didera pandemi. Karena itu, dia berharap holding mampu membantu pelaku mikrountuk bertahan dan bangkit dimasa pandemi ini.

Selain itu, Reynaldi pun berharap kehadiran holding mampumenurunkan bunga kredit agar pembiayaan tak banyakmenggerus laba dari pelaku mikro. Dia pun menilai melaluiholding ke depan pembiayaan bisa lebih cepat sehinggamenghapus peluang praktik rentenir mulai dari rantai pasok awalhingga akhir.

Rantai pasok ini memang perlu diperbaiki dari sistem ijon ini. Karena ini yang membuat harga barang-barang mahal mulai dari rantai pasok awalnya seperti petani,” jelasnya penuh harap.

Senada, pengamat BUMN dari Fakultas Ekonomi dan BisnisUniversitas Indonesia (FEB UI) Toto Pranoto menilai holding akan memiliki kesempatan untuk melakukan ekspansi bisnispembiayaan dan pemberdayaan. Hal ini dilakukan dengan cross selling sekaligus co-location yang membuat jangkauan bisnisholding semakin lebih luas. “Ini pun semakin efektif lantaranmasing-masing anggota tetap mempertahankan keunikanbisnisnya sehingga menyediakan solusi keuangan lebih lengkap,”jelas Toto.

Peningkatan manfaat juga akan dirasakan oleh pelaku ultra mikrosebagai nasabah. Perbaikan struktur dana akan membuat bungapembiayaan menjadi rendah. “Solusi keuangan pun akan menjadilebih lengkap, dan akan mengakomodir pelaku usaha untuk cepatnaik kelas,” ujarnya.(*/sat)

Ekonomi