RADAR JOGJA- Keluar dari zona nyaman tentunya bukan hal yang mudah untuk siapa saja. Apalagi jika itu berhubungan dengan masalah finansial. Siapa yang tidak mau hidupnya berkecukupan dan tidak perlu terlalu banyak perhitungan jika ingin membeli sesuatu, bukan?

Ada kalanya hal tersebut dibayar dengan melakukan pekerjaan yang melawan hati nurani sendiri.  Namun jika hati nurani sudah menang, maka keberanian untuk keluar dari zona nyaman itu pasti akan muncul.

Terlebih, jika hal itu sudah bertentangan dengan prinsip yang dimiliki. Seperti kisah salah satu pebisnis sukses asal Palembang, Sumatera Selatan, Widiastuti. Setelah 18 tahun lebih bekerja di bank konvensional terkemuka, dia menguatkan tekadnya untuk mengundurkan diri dari sana.

Bukan karena lingkungan kerja yang tidak nyaman atau gaji yang kurang, tapi karena prinsip yang dia pegang tidak sejalan dengan sistem kerja dari bank tersebut.

“Saya resign dari sana tentunya sudah dengan berbagai pertimbangan. Saya sudah berdiskusi dengan suami, dan memang ini adalah keputusan yang paling tepat. Daripada saya di sana, tapi melakukan hal yang tidak sesuai dengan keyakinan dan prinsip yang saya miliki, lebih baik saya resign,” ujarnya.

Prinsip yang Widi pegang berkaitan dengan agama yang dia yakini, yakni Agama Islam. Dalam Islam, kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh bank konvensional bisa dikategorikan dalam riba, sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT.

Setelah bergabung Komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR) di daerahnya, Widi mengaku terpanggil hatinya untuk meninggalkan jalan riba dan mencari pekerjaan atau membuka bisnis yang sejalan dengan prinsipnya.

“Saat saya resign, saya tidak punya pegangan lain. Uang pesangon dari kantor yang jumlahnya sebenarnya sangat cukup untuk melunasi hutang dan membuka bisnis baru juga tidak saya terima. Karena buat apa? Kalau saya pakai untuk bisnis ya percuma. Yang saya pakai tetap uang dari riba. Daripada nanti tidak berkah,” katanya.

Widi bercerita, sebelum dia mengundurkan diri dari kantor di tahun 2018, Widi sebenarnya sudah mencoba berbagai macam bisnis. Mulai dari bisnis warung internet (warnet), daging, hingga rumah makan yang hanya bertahan 4 bulan. Akan tetapi semua bisnis itu hancur.  Satu-satunya bisnis yang tersisa sampai saat ini adalah bisnis air minum.

“Mungkin karena itu satu-satunya bisnis yang modalnya diridhai oleh Allah SWT,” ujar wanita yang sudah dikaruniai tiga orang anak ini. Setelah mengundurkan diri pun Widi masih belum tahu akan memulai bisnis apa lagi dan dengan modal dari mana. Tapi dia sama sekali tidak khawatir.

Dia percaya dengan janji Allah SWT, yang tidak akan membuat hamba-Nya kesusahan karena melangkah di jalan-Nya. “Di saat itulah saya dipertemukan dengan Supergoat, lewat Komunitas Masyarakat Tanpa Riba,” kenangnya.

Waktu itu, Supergoat masih belum secara resmi meluncurkan produknya. Supergoat masih melakukan seminar keliling Indonesia untuk mengumpulkan distributor di masing-masing kota.

Awalnya, Widi mengaku tidak tertarik dan hanya ikut mendengarkan seminarnya saja menemani salah satu temannya yang memang sudah sering menjual susu kambing dari berbagai macam merek.

“Saya tidak tertarik karena saya sendiri bukan pengkonsumsi susu kambing. Saya tahu susu kambing itu banyak manfaatnya. Sayangnya, saya kurang suka karena yang saya tahu susu kambing itu prengus (amis).

Setelah “dipaksa” mencoba Supergoat, ternyata enak dan tidak terasa seperti susu kambing yang pernah saya coba,” ujarnya.

Tapi saat itu Widi juga masih belum tertarik untuk mencoba menjadi distributor Supergoat. Sampai beberapa bulan kemudian, di salah satu event di Bogor, suami Widi diperkenalkan dengan Supergoat. Begitu pulang ke rumah, dia menceritakan tentang Supergoat kepada Widi. Barulah Widi tertarik untuk mencoba bisnis ini.

Kendati demikian, dia masih harus menunggu lagi karena distributor wilayah Palembang sudah dipegang oleh teman Widi. Jiki Widi ingin memegang wilayah Sumatera Selatan, maka dia minimal harus melakukan pembelian awal 100 kardus.  Isi tiap kardus ada 50 kotak.

“Jujur waktu itu saya belum mampu kalau harus 100 kardus. Jadi saya urungkan lagi niat saya. Namun yang namanya rezeki memang tidak ke mana, bisnis yang dipegang teman saya tidak jalan. Akhirnya oleh pusat, wilayah Palembang diserahkan kepada saya dengan modal awal 5 kardus. Alhamdulillah ludes hanya dalam waktu 3 hari,” katanya.

Karena pesanan semakin banyak, yang awalnya hanya 5 kardus, semakin lama juga semakin bertambah. Kelebihan Widi sebagai seorang marketing dan salah satu motivator di Komunitas Masyarakat Tanpa Riba membuat banyak orang tertarik menjadi reseller.

Bukan lagi hanya di daerah Palembang, tapi sampai merambah ke daerah lain di Sumatera Selatan. Hanya dalam waktu 6 bulan, Widi berhasil menjual 100 kardus.

“Awalnya, saya menjualnya pakai sistem door to door. Harus berani malu. Lagipula ini bagian dari dakwah juga kan? Susu kambing adalah minuman favorit Rasul, memiliki banyak manfaat, dan bisa dikatakan sunnah. Jadi, saya anggap ini sekalian ibadah juga,” ceritanya.

Sekarang, setelah hampir 3 tahun menjadi bagian dari Supergoat, Widi sudah tidak perlu lagi berjualan dari rumah ke rumah. Setiap bulan, dia sudah bisa menjual sekitar 255 hingga 400 kardus. Jika ditotal, berarti Widi berhasil mendistribusikan 12.750 hingga 20.000 kotak Supergoat per bulan.

“Alhamdulillah rezeki lancar, bisnis juga halal. Semuanya diawali dari keberanian untuk berhijrah ke jalan Allah SWT,” tuturnya.

Sampai saat ini, Widi be. Widi berharap, semakin banyak umat Muslim di Indonesia yang berani untuk berhijrah dari riba seperti dirinya. Jika ingin memulai berbisnis, Widi berpesan agar senantiasa mengikuti cara Rasul, yakni berbisnis karena Allah SWT, bukan hanya semata-mata demi keuntungan belaka. (*/sky)

Ekonomi