RADAR JOGJA- Keberadaan layanan pinjaman online melalui platform fintech peer-to-peer lending di Indonesia sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi masyarakat.

Kendati demikian, berdasarkan penuturan dari OJK atau Otoritas Jasa Keuangan, ternyata masih ada banyak kalangan yang belum memahami betul cara kerja dari produk keuangan berbasis digital tersebut.

Bahkan, OJK memaparkan bahwa sekitar 40 persen pengguna jasa keuangan tak memahami betul tentang apa itu pinjaman online. Inilah mengapa headline dan berita tentang orang yang terjerat utang dengan jumlah selangit hingga tak mampu lagi melunasinya kerap bermunculan hingga saat ini.

Penyebabnya tak lain karena masih banyak pengguna pinjaman online yang tak tahu bahwa ada layanan ilegal yang harus dihindari.

Contohnya, hanya karena alasan kebutuhan mendesak, tak sedikit orang yang asal mengajukan pinjaman online tanpa mencari tahu kredibilitas dan legalitas platformnya terlebih dulu.

Seperti yang kita tahu, aktivitas jasa keuangan yang legal di Indonesia, termasuk pinjaman online, selalu mendapatkan pengawasan OJK. Dengan mendapatkan pengawasan tersebut, artinya segala kebijakan pinjaman online, seperti, tingkat bunga yang dibebankan, nominal denda keterlambatan, hingga metode penagihan akan disesuaikan dengan regulasi yang berlaku.

Hal inilah yang tidak akan Anda temui pada layanan pinjaman online ilegal. Tidak hanya itu, ada pula beberapa tips yang bisa membuat aktivitas pinjaman online menjadi lebih aman dan menjamin cicilannya tetap aman bagi keuangan. Untuk lebih jelasnya, simak 5 tips ajukan pinjaman online agar cicilannya tak membengkak dan lekas lunas berikut ini.

  1. Ajukan Pinjaman Online di Layanan Terpercaya

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, mengajukan pinjaman online pada layanan yang legal, kredibel, dan terpercaya adalah hal yang wajib untuk dilakukan. Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah sebuah pinjaman online legal atau ilegal? Mudah saja, Anda dapat melihat apakah fintech penyedia layanan tersebut telah mengantongi status terdaftar maupun izin usaha dari OJK atau belum.

Untuk mengeceknya, Anda dapat mengunjungi situs resmi OJK dan melihat pengumuman daftar fintech yang telah resmi terdaftar dan memiliki izin usaha. Hal ini penting untuk dilakukan karena fintech ilegal jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang yang legal. Oleh karena itu, agar tidak terjebak, tips yang satu ini wajib diaplikasikan sebelum ajukan pinjaman online.

  1. Tentukan Nominal Pinjaman sesuai Kebutuhan

Setelah memastikan legalitas layanan pinjaman online, Anda perlu menentukan berapa jumlah dana pinjaman yang perlu diajukan. Tentunya, nominal dana pinjaman tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan bayar Anda. Dengan begitu, saat tiba waktunya untuk melunasi cicilannya, keuangan Anda tidak akan sampai kewalahan.

Sebagai acuan, usahakan untuk tak mengajukan pinjaman yang cicilannya mematuk lebih dari 30 persen penghasilan bulanan Anda. Jika dipaksakan, akan ada ancaman kebutuhan penting lainnya tak mampu terpenuhi. Selain itu, Anda akan lebih berisiko menunggak pembayaran tagihan atau bahkan kredit macet yang mampu membebani keuangan dengan denda keterlambatan dan berimbas pada skor kredit yang buruk.

  1. Lunasi Cicilan Sebelum Tenggat Waktu Berakhir

Mengajukan pinjaman online langsung cair modal KTP dengan nominal yang pas dan sesuai dengan kemampuan bayar membuat beban cicilan pinjaman online terkontrol. Dalam kata lain, Anda akan lebih mudah melunasinya sebelum tenggat waktunya berakhir dan terhindar dari risiko membayar denda keterlambatan yang mampu membuat cicilannya membengkak seketika.

  1. Tujuan Ajukan Pinjaman Online Jelas

Tak kalah pentingnya, pastikan Anda memiliki tujuan keuangan yang jelas saat mengajukan pinjaman online. Hindari memanfaatkan layanan keuangan tersebut untuk menutupi tanggungan kredit lainnya, atau istilahnya gali lubang tutup lubang. Praktek pinjaman tersebut sangat berbahaya karena dapat membuat jeratan utang tak kunjung teratasi, bahkan semakin kencang mencekik keuangan Anda.

Ada banyak contoh kasus dimana seseorang mengajukan pinjaman di banyak layanan sekaligus. Walaupun mungkin secara logika nominal pinjamannya kecil, misalnya hanya 1 juta, jumlah dana yang harus dikembalikan tentu menjadi lebih tinggi imbas dari beban bunganya.

Selain itu, hindari pula mengajukan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan konsumtif dan tidak jelas manfaatnya. Pasalnya, hal ini dapat memicu sikap tak bertanggung jawab dan asal-asalan dalam menggunakan layanan pinjaman tersebut.

  1. Pastikan Bunga dan Dendanya Terjangkau

Pada dasarnya, OJK telah menerbitkan aturan tentang kisaran bunga yang boleh ditetapkan oleh layanan pinjaman online legal. Kalaupun ada denda keterlambatan, nominalnya tidak akan langsung membuat tagihan kredit nasabah melonjak drastis hingga membuatnya mustahil untuk bisa dilunasi.

Meski begitu, tidak semua penyedia pinjaman online membebankan tingkat bunga dan denda keterlambatan yang sama. Tergantung dari kebijakan masing-masing platform, mungkin saja suku bunga dan denda keterlambatan di sebuah layanan lebih terjangkau ketimbang yang lainnya. Intinya, sebelum ajukan pinjaman online, survei lebih dulu tingkat bunga dan denda keterlambatan yang dibebankan oleh beberapa layanan, lakukan perbandingan, dan pilih yang paling ringan.

Pinjaman Online Ditujukan untuk Penuhi Kebutuhan Produktif dan Memiliki Urgensi Tinggi

Itulah 5 tips yang bisa Anda aplikasikan saat ajukan pinjaman online agar cicilannya tetap terjangkau dan mampu dilunasi dengan segera. Yang terpenting, hanya manfaatkan layanan keuangan tersebut untuk memenuhi kebutuhan produktif dan memiliki urgensi tinggi. Dengan begitu, penggunaan pinjaman online akan terkontrol dan tak akan sampai membuat keuangan kewalahan dalam melunasi cicilannya. (*/sky)

Ekonomi