RADAR JOGJA- Pengusaha Kue Kering di Jogjakarta mengalami penurunan omzet terdampak pandemi virus corona. Wabah penyakit yang sudah merenggut ratusan ribu nyawa tersebut berdampak terhadap menurunnya permintaan dari pembeli.

Pengrajin kue kering Sari Dewi yang terletak dijalan magelang Km 10 Josari,Tridadi Sleman mensiasati dengan mengkreasikan kue khas Lebaran dengan motif yang bertemakan aneka karakter salah satunya orang memakai masker. Karakter tersebut dibuat tetap imut dan menarik agar konsumen juga suka.

Tidak hanya untuk meningkatkan cita rasa dan menarik minat pembeli, inovasi juga dilakukan untuk mengedukasi masyarakat agar senantiasa peduli terhadap bahaya covid-19.

Tenaga Ahli Katering Sari Dewi, Koki (Chef) Yuyun Nurwahyuni menceritakan kue kering karakter ini dimaksudkan untuk memberi kesegaran pada kue kering Lebaran.

Pada masa pandemi ini, masyarakat perlu mendapat sesuatu yang baru bukan kue lebaran yang itu-itu saja. “Kue kering dengan karakter yang memakai masker ini, selain enak dinikmati sekaligus untuk mengedukasi tentang covid-19,” katanya saat ditemui di Katering Sari Dewi Rabu (5/5).

Owner Katering Sari Dewi menuturkan Kue kering berkarakter merupakan inovasi untuk menyiasati lesunya penjualan kue kering pada masa pandemi. “Kami berinovasi menciptakan kue kering-kue kering yang sekiranya bisa lebih disukai oleh masyarakat,” terangnya.

Tidak hanya orang memakai masker, karakter-karakter menarik lainnya yang bertema Lebaran juga dibuat, seperti anak perempuan berhijab, ketupat, bulan dan bintang, masjid, hingga buah nanas. Karakter-karakter tersebut  dilukis dengan warna-warna cerah sehingga terlihat menarik.

Dengan adanya kue kering karakter, orang akan lebih tertatik. Mereka tidak langsung memakannya, tetapi melihat dan menikmati dulu karakternya baru kemudian menyantapnya. “Harga satu toples kue kering berkisar Rp 60 ribu sampai Rp 90 ribu tergantung permintaan jenis margarin dan jenis kue keringnya,” ujarnya.

Dewi menambahkan, penjualan kue kering pada masa pandemi belum sebaik saat sebelum pandemi. Jika sebelum pandemi, penjualan kue kering bisa mencapai 200 toples sehari, sedangkan saat ini bisa rata-rata mampu menjual 20 toples perhari.

Turunnya omset penjualan kue kering saat pandemi karena banyak yang bekerja dari rumah. Mereka kemudian berkreasi sendiri membuat kue kering di rumah.

pada masa pandemi, pihaknya juga lebih mengaktifkan pemasaran via daring, baik situs internet, Facebook, Instagram, maupun WhatsApp. Metode ini mampu menjaring pasar lebih luas. “Hingga saat ini, pengiriman kue kering sudah sampai Jakarta hingga Surabaya,” katanya.

Selain itu juga ada pelanggan dari luar negeri, seperti Singapura  dan Malaysia, sering menghubunginya saat hendak mengadakan acara di Jogja. Walaupun telah memperluas pasar,

Omset masa pandemi ini masih jauh dibanding sebelum pandemi. Pada masa awal pandemi, penurunan omset sampai 90%, termasuk saat Ramadan 2020. Usaha kateringnya pun naik-turun mengikuti kebijakan pemerintah.

Saat pengetatan aktivitas diberlakukan, omsetnya akan menurun. Namun, saat ada kebijakan pelongggaran aktivitas, omset kateringnya juga akan sedikit meningkat. “Pada Desember 2020, omset kami sempat ke 40% (dibanding masa sebelum pandemi).

Namun, pada Januari 2021, omsetnya kembali turun seiring kebijakan pemerintah tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Saat ini, produksi kateringnya baru mencapai 30% dari produksi sebelum masa pandemi,”jelasnya. (sky)

Ekonomi