RADAR JOGJA – Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah (DPW) DIJ Gerakan Kebangkitan Petani dan Nelayan Indonesia (Gerbang Tani) Mohammad Rosul  menolak rencana pemerintah mengimpor beras. Sebelumnya, Menko Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan beras yang akan diimpor sebanyak 1-1,5 juta ton.

“Rencana ini telah menyebabkan anjloknya harga harga jual gabah kering panen (GKP) di kalangan petani,” tegas Mohammad Rosul.

Hal ini menyebabkan hasil panen yang dinikmati petani tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan. “Rencana impor beras ini juga tidak tepat dari sisi waktu, karena berbarengan dengan musim panen para petani. Karena awal Maret hingga Mei, petani di sejumlah daerah memasuki masa panen raya,” jelasnya.

Menurutnya, daerah lumbung padi DIJ seperti Kabupaten Bantul dan Sleman akan terpukul. Petani sudah berupaya berproduksi sebaik mungkin meski berhadapan dengan cuaca yang tidak menentu. “Jika panen para petani ini berbenturan dengan anjloknya harga sebab ada rencana impor, maka ini suatu kedholiman kepada petani,” jelasnya.

Musim panen raya akan terjadi di berbagai daerah di antaranya di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Papua. Juga di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, serta Kalimatan Selatan.

“Meskipun impor beras masih dalam tahap rencana, tapi sudah mempengaruhi harga jual gabah kering panen petani. Kondisi ini akan dimanfaatkan oleh tengkulak untuk memainkan harga sehingga merugikan petani,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya, alasan iron stock baik untuk cadangan yang disampaikan pemerintah juga layak dikaji kembali. Sebab alasan ini telah menyebabkan kerugian yang dialami jutaan petani di Indonesia dan berlawanan dengan data yang dikeluarkan oleh BPS.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statsistik mencatatkan terjadinya peningkatan produksi panen padi dari tahun 2019 yang mencapai 54.604.033,34 ton menjadi 54.649.202,24 ton pada 2020. “Ada peningkatan mencapai 45.000 ton. Pada kuartal I tahun ini, BPS juga memperkirakan produksi beras akan meningkat 26%,” jelasnya. (*/asa/ila)

Ekonomi