RADAR JOGJA – Investasi punya beragam cara. Di pasar modal salah satunya. Jika dulu berselancar di pasar modal dahulu identik dengan orang tua. Namun, belakangan ini anggapan itu mulai pudar. Semakin banyak dari kalangan generasi muda yang sadar mengenai pentingnya investasi.

Maulana Habibi misalnya. Karyawan swasta itu mengaku mulai main saham sejak beberapa bulan terakhir. Ia belajar soal apa itu saham dan pasar modal dari YouTube. “Nonton video soal saham-saham gitu di YouTube-nya Raditya Dika, waktu itu langsung tertarik,” ungkap Habibi Jumat (5/3).

Selain itu, Habibi juga merasa selama ini sudah berusaha menabung tapi tidak terlalu membuahkan hasil. Selain itu, uang yang disimpan lama di bank juga bisa berkurang setiap bulan karena adanya biasa administrasi.

Dengan berinvestasi, pria 25 tahun itu bisa memutar uangnya dan ada kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan. Kendati tak bisa dipungkiri ada kemungkinan rugi yang tak kalah besar juga. “Ya intinya harus har-hati dan pintar dalam melakukan transaksi saham,” ujarnya.

Untuk memperkecil kemungkinan rugi, Habibi punya beberapa trik khusus. Salah satunya adalah memperbanyak literasi soal pasar modal. Entah itu dari buku, atau artikel yang beredar di internet.

Sejak pertama kali melakukan transaksi saham beberapa bulan lalu, saat ini Habibi sudah punya saham di tiga perusahaan besar nasional. Namun, ketika disinggung berapa keuntungan yang ia dapat setiap bulannya, ia enggan menjawab. “Ada, yang pasti naik turun,” tandasnya.

Kondisi itu diamini Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) DIJ Irfan Noor Riza. Bahkan dia menyebut, pada Januari lalu mencatatkan rekor jumlah penambahan investor di pasar modal DIJ. Mencapai 6.466 investor dalam sebulan. Pada Desember 2020 juga naik signifikan, 5.234 investor. Padahal sebelumnya rerata 1.000-an investor per bulan. “Tren peningkatan mulai pandemi ini,” ungkapnya.

Irfan menambahkan, dari total 74.583 investor pasar modal di DIJ, 45 persen di antaranya adalah kalangan milenial. Hal itu dibuktikan dengan sekolah pasar modal yang digelar BEI DIJ. Yang kini dalam sebulan bisa empat hingga lima kali sekolah pasar modal secara online. Ditambah sekolah pasar modal di 37 galeri investasi di kampus-kampus. “Mayoritas pesertanya adalah milenial,” ungkapnya.

Irfan menyebut, meningkatnya investor pasar modal dipengaruhi pandemi. Saat awal pandmei masyarakat kager tidak punya dana darurat. Kemudian mulai mencari informasi tentang investasi. Ditambah kebijakan work from home (WfH) yang membuat lebih banyak waktu browsing investasi pasar modal. “Yang juga mempengaruhi saat pasar modal jadi fenomenal karena banyak diulas public figure, youtuber hingga influencer,” tuturnya.

Meningkatnya jumlah investor juga berpengaruh pada nilai transaksi. Irfan mengatakan, pada Januari lalu, bersamaan dengan peningkatan jumlah investor, jumlah transaksi meningkat hingga Rp 8,75 triliun. Padahal sebelumnya rerata transkasi per bulan di bawah Rp 2 triliun per bulan. Meski diakuinya nilai tersebut belum sebesar daerah lain, Jakarta misalnya. “Ya karena investor baru dananya tidak besar, saya mendorong jumlah investor bertambah dulu, transaksi akan mengikuti,” ujarnya. (kur/pra)

Ekonomi