RADAR JOGJA – Peringatan hari pahlawan 10 November 2020 lalu, menggugah pandangan Rio Pujaya. Mengingatkan kembali impiannya sejak SMK, untuk memodifikasi kendaraan. Dia membulatkan pandangannya, pada saat layar televisi dan sosial media menampilkan kembali perjuangan para Pahlawan Indonesia melawan penjajahan.

Pandangannya fokus pada mobil-mobil kuno yang ditumpangi Soekarno. Sejak saat itu dia semakin tergerak mendalami mobil kuno dan mencari sejarahnya. Lantas, terbesit untuk menciptakan perpaduan kendaraan kuno. “Awalnya pengen bikin mobil. Tapi karena membutuhkan waktu lama, akhirnya mencoba motor,” ungkap pria yang tinggal di Jalan Mawar nomor 12, Baciro, Gondokusuman, Kota Jogja Jumat (3/2).

Selama satu minggu dia melakukan observasi. Mulai dari mendatangi Museum Andong, melihat koleksi Museum Merpati dan mobil klasik yang tengah konvoi. Ditambah lagi dari sosial media. Dengan skill-nya di bidang seni. Pria kembar berusia 26 tahun ini mulai mendesain kasar di atas kertas, perpaduan mobil Fiat 1100 E dan VW Kodok. Berbekal basic kerajinan keramik, lalu dia membuat miniatur dari tanah liat.”Lalu saya berfikir mewujudkan. Kebetulan saat melintas di bengkel las, saya lihat tumpukan limbah pelat yang tidak terpakai lagi,” ungkapnya di sela kesibukannya membakar keramik.

Pada Desember, dia mulai menciptakan kerangka. Mengelas limbah pelat dengan dibantu tiga orang rekannya. Januari finishing. Ingin terkesan beda, dia menambahkan properti lampu dan jok dari sepeda ontel kuno, rodanya roda vespa, stangnya costum. Jok belakang dari kayu jati belanda. Mesinnya, dia ambilkan dari motor bekas miliknya. Komplit, seperti motor pada umumnya dengan modifikasi kerangkanya. Warna hitam dan chrome mengkilap ditambah aksesoris antik membuat motor ini tampak klasik dan nyentrik.”Motor ini, baru jadi sepekan lalu, 25 Januari. Saya beri nama NR,” terangnya sembari menunjuk. NR, kata dia, kepanjangan dari Nurul Rio. Nama dia dan calon istrinya.

Motor ini pun mendapatkan apresiasi banyak orang. Mulai dari komunitas mobil klasik, pecinta motor dan kalangan umum. Bahkan sempat ditawar Rp 25 juta dan dua orang hendak memesan. “Karena ini perdana dan untuk orang spesial saya enggak jual,” bebernya.

Pria alumnus Institute Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini menyebut, dalam waktu dekat ini dia hendak menduplikat lagi NR. Dia pun tak menyangka hobinya di bidang otomotif dan modifikasi kendaraan ini justru menjadi peluang. Cara baru memperkenalkan mobil kuno sekaligus mengulik sejarah di dalamnya.

Fiat 1100 E ini, kata dia, merupakan mobil pabrikan Italia. Dibuat sekitar 1953-1960-an. Konon, mobil ini pernah di bawa Jepang hendak dihadiahkan kepada Ir Soekarno. Demikian VW Kodok, menurutnya memiliki bentuk uang unik dan elegan. “Ini menjadi pertimbangan saya (membuat desain),” katanya.

Dia berharap, suatu saat dapat menunjukkan langsung karyanya ini kepada Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Tak berhenti di situ, dia semakin tertantang menciptakan desain-desain baru. “Karena hobi, saya jalani tanpa kendala. Adanya bahagia,” tutur Rio. (mel/pra)

Ekonomi