RADAR JOGJA – Kantor Perwakilan  Bank Indonesia Jogjakarta menggelar Webinar Seminar Nasional Pariwisata DIJ 2020, kamis  (2/12).  Webinar mengangkat tema Sinergi Reaktivasi Pariwisata DIJ di Era New Normal sebagai Jangkar Perekonomian Daerah.  Kegiatan ini merupakan wujud sinergitas antara pemerintah, pelaku usaha dan Bank Indonesia dalam akselerasi pemulihan ekonomi DIJ melalui sektor pariwisata sebagai jangkar ekonomi DIJ.

Direktur Perwakilan Bank Indonesia Jogjakarta Hilman Tisnawan mengatakan, kegiatan ini didukung Pemrov DIJ dan bekerjasama dengan lintas instansi maupun kelembagaan.  Di antaranya, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI).

Dia menerangkan, konstribusi sektor pariwisata dan pendidikan di wilayah DIJ memberikan sumbangsih pada produk domestik regional bruto (PDRB) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIJ pada 2019 lalu mencapai 64,6 persen.  Sementara kombinasi konsumsi dari wisatawan dan mahasiswa mencapai 64,6 persen.  “Pariwisata DIJ tidak terlepas dari bagian destinasi super prioritas Borobudur-Joglosemar,” bebernya.

Berdasarkan data Dinas Pariwisata (Dinpar) pada 2018 lalu tercatat, 88 persen wisatawan mancanegara (Wisman) yang berkunjung ke DIJ turut mengunjungi Borobudur.  Selain itu, mayoritas usaha mikro kecil menengah (UMKM) DIJ berada pada sektor yang menopang pariwisata.

Transformasi Pariwisata DIJ yang semula hanya berfokus pada leisure berbasis kuantitas, kini menjadi pariwisata berkualitas dan berbasis MICE (meeting, incentive, convention and exhibition).  “Upaya memperpanjang length of stay,” ujarnya.

Kegiatan ini dibuka oleh Gubernur DIJ Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam sambutannya, HB X mengatakan, DIJ dikenal sebagai kota pendidikan, budaya dan pariwisata. Peranan bank sudah menjadi mata rantai untuk menopang pariwisata. Bank menjadi jangkar yang berkemampuan tumbuh berkelanjutan dan menjadi konsolidator serta berfungsi sebagai intermediator guna mendorong pertumbuhan ekonomi.  Mengadopsi pengertian itu, maka menjadi jelas apa yang dimaksud pariwisata jangkar.  Dan di sektor pendidikan menjadi penyangga ekonomi DIJ.  “Sebenarnya DIJ memiliki tiga kekuatan penyangga sebagai tripilar. Yaitu, Budaya, pendidikan dan pariwisata,” ungkap HB X.

Dalam dunia ekonomi dan bisnis, budaya menghasilkan industri kreatif. Dalam sistem ekonomi kreatif, DIJ menjadi pusat industri kreatif.  Oleh sebab itu ada relevansinya jika DIJ menetapkan visi pada 2025 mendatang, menjadikan DIJ sebagai pusat budaya pendidikan dan pariwisata terkemuka di Asia Tenggara dalam masyarakat yang maju, mandiri dan sejahtera.

Untuk menjadi jangkar pariwisata DIJ,  memerlukan kolaborasi dan sinergitas antar  pemangku kepentingan. Salah satunya membangkitkan kembali pariwisata berbasis komunitas yang menjadi ciri khas DIJ. Sebab, kebangkitannya akan berdampak ganda pada sektor kaitannya. “Terutama kepada kelompok-kelompok masyarakat, secara teoritis maupun empiris terbukti kebenarannya,” ungkapnya.

Nah, dalam rangka menyelaraskan prokes dengan potokol ekonomi atau dalam basa sederhana waras lan wareg. Konsekuensinya, pembukaan destinasi wisata harus memperhatikan perkembangan situasi terakhir Covid-19 berdasar pada data WHO dan spesifikasi lagi data terakhir yang dirilis gugus tugas Covid-19.

Namun,  jika sudah disepakati baik Pemprov DIJ maupun Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA). Tentang SOP adaptasi kebiasaan baru harus lebih waspada. Sebab, implementasinya saat libur panjang kerumunan wisatawan akan sulit diawasi dan dikendalikan. Kecuali menambah personil yang memiliki disiplin juga dengan cara budaya jogja.  “Tepat dengan tegur sapa yang ramah,” ujarnya.

Menurut HB X hidup berdampingan dan berdamai dengan virus ini tidaklah mudah. Dalam situasi kenormalan baru, dunia bisnis, pemerintahan dan event secara umum mengalami perubahan drastis. Event sekala besar banyak ditunda bahkan dibatalkan. Adanya pembatasan dan interaksi secara langsung, maka virtual event akan menjadi solusi menjamin keberlangsungan jalannya ekonomi dan bisnis.  ”Spirit ini yang perlu kita jaga dan kita gerakkan bersama. Dengan harapan pandemi ini segera berakhir,” imbuhnya.

Dalam kegiatan ini, turut hadir Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Dia memaparkan sambutan mengenai kondisi keuangan Indonesia yang memasuki resesi dan diharapkan 2021 dapat tumbuh 5 persen. Nah, upaya BI di sektor wisata ini antara lain menggelar berbagai event untuk menumbuhkan UMKM.

Peningkatan kapasitas usaha melalui pelatihan daring dan sertifikasi. Akselerasi sistem pembayaran non tunai di destinasi dan jasa wisata. “Juga fasilitasi penyusunan SOP prokes,” lanjutnya.

Kegiatan ini juga menghadirkan tiga narasumber lainnya. Yaitu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dan Chief of Creative Experience Office (CXO-CT Corp) Putri Tanjung. Dengan moderator Ira Kuesno. Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan sesi diskusi. (*/mel/bah/sky)

Ekonomi