RADAR JOGJA – Pemprov DIJ mengandalkan bantuan insentif dari pemerintah pusat kepada pelaku usaha mikro dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mencegah terjadinya kontraksi ekonomi. Insentif diharapkan bisa membantu UMKM produktif selama pandemi.

Sekprov DIJ Kadarmanta Basakara Aji menjelaskan, pihaknya masih menunggu dampak dari pencairan bantuan senilai Rp. 2,4 juta kepada masing-masing penerima manfaat. “Harapannya segera digunakan sehingga bisa mendongkrak (ekonomi). Karena itu cukup banyak yang mendapat,” kata Aji di Kompleks Kepatihan kemarin (22/10).

Aji juga optimistis pertumbuhan ekonomi dapat segera terdongkrak seiring dengan pembukaan aktivitas pariwisata. Pelaku UMKM juga sudah mulai bergeliat. Itu didukung dengan wisatawan lokal yang sudah mulai berkunjung ke Jogjakarta. Termasuk penjualan suvenir dan juga batik Jogja yang mulai meningkat. ”Harapannya mulai terdongkrak dari situ,” paparnya.

Momen libur panjang pekan depan, diharapkan bisa membantu perekonomian daerah. Diprediksi akan ada banyak wisatawan yang mengunjungi DIJ. Hanya, mantan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ mengingatkan supaya penerapan protokol kesehatan bagi wisatawan harus diutamakan.  ”Kalau merasa aman akan lebih lama di Jogja dan itu akan mendongkrak ekonomi secara lebih baik,” katanya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIJ, Srie Nurkyatsiwi menjelaskan, sekitar 140 ribu pelaku UMKM telah mendapat bantuan pemerintah senilai Rp. 2,4 juta. Jumlah itu merupakan hasil cleansing dari 500 ribu penerima manfaat yang diusulkan. Bantuan itu diharap dapat meningkatkan produktivitas UMKM di tengah pandemi. “Sekitar 300 ribu pelaku usaha di-cleansing karena mungkin karena ada pencatatan ganda,” jelasnya

Siwi mengatakan, proses pendaftaran penerimaan bantuan telah diperpanjang sampai November. Pelaku UMKM bisa mendaftarkan secara mandiri di Diskop UKM masing-masing daerah.

Sementara Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIJ, Hilman Tisnawan menjelaskan, DIJ sempat memasuki resesi dengan pertumbuhan ekonomi negatif pada dua kuartal berturut-turut.  Daerah pariwisata seperti DIJ dan Bali menjadi yang paling terdampak dari berhentinya aktivitas manusia akibat pandemi. ”Penurunannya hingga mencapai  minus 6,74 persen,” jelas Hilman. (tor/bah)

Ekonomi