RADAR JOGJA – Awal pandemi Covid-19, pendapatan pedagang pasar di Sleman turun hingga 60 persen. Oleh karena itu, Kabupaten Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mulai merumuskan kebijakan baru untuk bisa membuka ruang ekonomi yang lebih luas.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Mae Rusmi Suryaningsih menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan dengan melengkapi setiap pasar tradisioanl dengan sarana dan prasarana di era adaptasi kebiasaan baru. Serta membagikan 200 alat cuci tangan di seluruh pasar yang ada di Sleman. “Total, ada 42 pasar tradisional dengan 30 pasar yang tergolong aktif,” jelas Mae Kamis (22/10).

Selain protokol kesehatan di pasar yang diperketat, Disperindag Sleman juga melakukan pembekalan kepada pedagang di adaptasi kebiasaan baru. Dengan adanya sekolah pasar yang betujuan untuk memperkenalkan penjualan online.

Saat ini, setiap pasar sudah memiliki kelompok pedagang yang diisi oleh pedagang yang paham teknologi dan pedagang lanjut usia. ”Agar pedagang yang tidak paham teknologi, dagangannya bisa ikut terjual,” tambahnya.

Mae menambahkan, saat ini pihaknya juga telah meluncurkan akun instagram untuk wadah promosi bernama Lopis (layanan online pasar ing Sleman,Red). “Jadi sudah ada kurang lebih 22 pasar yang terdaftar di akun instagram Lopis id,” kata Mae.

Adanya penjualan online, lanjut Mae, sempat dikhawatirkan oleh pedagang jika nantinya pasar menjadi sepi. Hanya saja, pihaknya memberikan pengertian jika nantinya penjualan online diperuntukkan bagi pangsa pasar lainnya. Misalnya seorang Ibu yang memiliki anak balita, pekerja kantoran, hingga pengusaha. “Jadi tidak menghentikan yang mau datang ke pasar, namun kita mencari pangsar baru,” tutur Mae.

Mae juga tidak mengharuskan pedagang untuk seluruhnya berpindah melakukan penjualan online. Hal ini disesuaikan dengan keinginan masing-masing pedagang. Dalam hal ini, Disperindag Sleman bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di DIJ melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk melakukan sosialisasi ke pedagang. Nantinya, penjualan via website juga akan dilakukan untuk lebih mempermudah masyarakat dalam berbelanja. “Memanfaatkan teknologi juga diharapkan pedagang bisa mandiri dan berdaya di era yang kompetitif,” ungkapnya. (eno/bah)

Ekonomi