RADAR JOGJA – Pekerja kreatif yang bergelut di industri mebel dan kerajinan mengaku mengalami penurunan transaksi yang cukup signifikan di masa pandemi Covid-19. Era kebiasaan baru yang digaungkan pemerintah dan tren pemasaran daring dinilai tidak terlalu berpengaruh terhadap daya beli.

Pengurus Asosiasi Pengusaha Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) DIJ Bagus Prianto menjelaskan, pada Agustus lalu sektor mebel dan kerajinan mulai kembali bergeliat. Namun, memasuki September hingga Oktober, dia merasa trennya mulai menyusut lagi.

“Memang tengah lesu. Apalagi produk-produk interior ya. Itu cukup terasa,” jelasnya, Selasa (20/10).

Dia menyebut salah satu penyebabnya karena target pasar dari sektor mebel dan kerajinan sedikit berbeda. 

“Masih belum memadai menurut kami tren transaksinya. Karena marketnya memang cukup berbeda antara lokapasar dan penjualan daring lain di sektor mebel dan kerajinan,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Bagus, para konsumen butuh mengamati secara fisik produk secra langsung untuk mengetahui orisinalitas dan kualitas.

“Kalaupun digelar secara daring, mungkin formatnya yang perlu diperhatikan dengan serius. Ada beberapa hal yang perlu ditonjolkan dan dapat diakses dengan lengkap tentang produk itu,” ujarnya.

Guna mendongkrak aktivitas ekonomi di sektor mebel dan kerajinan, pihaknya berencana menggelar pameran melalui aktivitas daring dan luring. Menyasar konsumen di bidang perhotelan, perumahan, dan pengerjaan proyek fisik lainnya. Dengan begitu, diharapkan mampu menggerakkan sektor UMKM yang tengah lesu di masa pandemi. (sky/tif)

Ekonomi