RADAR JOGJA – Sektor wisata di Jogjakarta mengalami kerugian besar pasca pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Estimasi kerugian dari Maret hingga 16 April mencapai Rp 80 Miliar. Sementara untuk dampak kepada pelaku wisata mencapai 15 ribu orang atau kelompok wisata.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X tak menampik bahwa kondisi ini terburuk bagi dunia pariwisata. Sektor ini berhenti sepenuhnya pasca Covid-19. Imbasnya kepada pelaku usaha dan warga yang bergantung pada sektor wisata.

“Bagi bidang pariwisata di Jogjakarta ini adalah kondisi terburuk. Semua benar-benar berhenti karena tidak ada wisatawan sehingga aktivitas wisata juga otomatis berhenti,” jelasnya ditemui di Grha Wana Bakti Yasa, Jumat (24/4).

Covid-19, lanjutnya, dapat menjadi momentum membangun kebersamaan. Berupa lahirnya gerakan sosial untuk kepedulian. Wujudnya adalah bantuan kepada warga terdampak langsung. Terutama yang roda perekonomian terhenti total.

Munculnya gerakan sosial ini tak hanya dari pemerintah tapi juga pelaku wisata. Untuk saling menopang dalam wujud bantuan sosial. Setidaknya dalam bantuan pangan bagi warga kecil yang membutuhkan.

“Kita harus kita selesaikan sendiri dengan bersama-sama untuk bangkit kembali menatap masa depan. Tetap sabar, lalu kekuatan Jogjakarta adalah pada gotong royong dan solidaritasnya,” katanya.

Dalam kegiatan ini Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyerahkan bantuan sosial sebanyak 30 ribu paket. Seluruh bantuan tersebut tersalurkan dalam dua gelombang. Tahapan pertama sebanyak 15 ribu paket yang terbagi lagi dalam tiga gelombang.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Rizki Handayani Mustafa menuturkan bantuan tersebut menyasar para pelaku wisata. Khususnya para pekerja yang dirumahkan maupun mendapat pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Wisata menjadi sektor pertama yang terkena dampak Covid-19. Total berhenti yang kemudian berimbas pada pelaku usahanya. Kami sudah dapat laporan, ada yang dirumahkan hingga PHK. Akhirnya tak memiliki penghasilan,” katanya. 

Paket bantuan sosial ini terdiri dari kebutuhan pangan harian. Meliputi lima kilogram beras, satu kilogram gula pasir, dua liter minyak goreng dan mie instan. Adapula bantuan produk pangan olahan binaan kawasan wisata Borobudur. Berupa olahan abon siap santap.

Penyaluran bantuan menerapkan protokol kesehatan. Artinya penerima tidak perlu mendatangi Grha Wana Bakti Yasa. Pihaknya telah bekerjanya dengan jajaran Polda DIJ dan Korem 072/Pamungkas.

“Diantar door to door oleh Polda dan TNI sesuai data dari Dinas Pariwista Provinsi (DIJ). Diberikan dalam tahapan, 5000 pax selama tiga kali. Jadi total untuk gelombang pertama 15 ribu. Kalau untuk Jogjakarta total 30 ribu paket bansos,” jelasnya. (dwi/tif)

Ekonomi