SWASEMBADA pangan bisa diwujudkan dengan penguatan sektor pertanian, kelautan, dan perikanan. Sukses tiga sektor tersebut memerlukan ajang saling tukar informasi dan invoasi dari setiap daerah. Di DIJ ajang itu terfasilitasi lewat Pekan Daerah (Peda) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA). Digelar tiap empat tahun sekali.

Nah, tahun ini Kabupaten Sleman didaulat sebagai tuan rumah Peda KTNA ke-15. Acara itu akan diselenggarakan selama sepekan. Pada 7-12 Juli mendatang. Di Lapangan Purwobinagun, Pakem. Bertema “Melalui Pemberdayaan Pemuda dan Penguatan Kelembagaan Tani Nelayan Kita Wujudkan Ketahanan, Kedaulatan, dan Kemandirian Pangan Berkelanjutan.”

“Ajang tersebut jadi forum pertemuan akbar bagi para pelaku bidang pertanian,” tutur Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman SRS Nawangwulan Selasa (25/6).

Lewat forum Peda KTNA diharapkan ada komunikasi dan interaksi antarpeserta yang bisa membuahkan jalinan kemitraan. Antara para produsen dan pelaku usaha pertanian. Terkait proses pemasaran produk yang dihasilkan.

Para peserta juga bisa saling bertukar ilmu dan pengalaman masing-masing. Untuk ditularkan kepada anggota kelompok tani dan nelayan di tiap daerah se-DIJ.

Ajang tersebut sekaligus menjadi persiapan menuju Pekan Nasional (Penas) KTNA 2020 di Padang, Sumatera Barat.

Peda KTNA DIJ 2019 akan diikuti perwakilan peserta dari kabupaten/kota di DIJ. Tiap daerah mengirimkan 50 orang. Akan turut hadir para penyuluh dari lembaga pemerintah dan akademisi kampus.

Setiap peserta akan membawa inovasi pertanian dari setiap daerah. Untuk selanjutnya bisa dimodifikasi dan diterapkan di daerah lain. “Sleman sudah siap untuk menyelenggarakan peda ini,” tegasnya.

Kabupaten Sleman sendiri memiliki banyak inovasi pertanian. Salah satunya sayur mina (yumina) yang merupakan modifikasi dari mina padi. Ada juga metode tumpangsari serta padi Sembada Merah dan Sembada Hitam. Juga ada teknologi sistem budidaya ikan nila dengan teknologi kincir air.

Pengembangan aneka inovasi pertanian tersebut dikembangkan di Dusun Samberembe, Candibinangun, Pakem. Dusun Samberembe juga menjadi salah satu lokasi kegiatan peda. “Jadi kegiatan peda ini menjadi titik awal untuk pengembangan pertanian terpadu di Samberembe. Nanti arahnya ke agrowisata,” ungkap Nawangwulan.

Pengembangan agrowisata itu untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pertanian. Sekaligus mengubah paradigma masyarakat tentang pertanian. Bahwa pertanian itu tak sekadar menanam, memanen, dan menjual hasil panen. Sektor pertanian juga bisa dikembangkan sebagai sarana edukasi dan wisata. Dengan ditambah fasilitas outbound dan taman bermain. Bukan tidak mungkin kawasan lumbung tani juga bisa dikembangkan menjadi destinasi agrowisata unggulan dan wahana selfie.

Nawangwulan optimistis, semua itu akan terwujud jika sektor pertanian dikemas secara terpadu. Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) juga bisa terlibat untuk mengolah hasil pertanian.

Peda KTNA juga dimaksudkan untuk mengajak dan merangkul para pemuda agar tertarik menggeluti profesi di dunia pertanian. Sebab, saat ini jarang ada anak muda yang memilih jalan hidup sebagai petani.(*/har/yog)

Ekonomi