BANTUL- Noor Saif Muhammad Mussafi, 35, pada 2004 silam dipercaya membantu usaha swalayan terbesar di Jogja milik orang tuanya, Sunardi Syahuri dan Noor Liesnani Pamella.

Berbekal ilmu beberapa tahun membantu usaha tersebut, Saif panggilannya mulai tertarik untuk terjun mendirikan usaha dengan jenis yang berbeda. Tahun 2011 Saif bersama istrinya, Nur Kamiela Jamil, 34, membangun swalayan bangunan dan listrik. Kala itu dia memulai dengan modal Rp 100 juta yang diberikan orang tuanya. “Sebelumnya mendirikan usaha tersebut saya sudah menjalankan berbagai usaha, seperti bimbel dan barber shop. Namun keinginan saya untuk melanjutkan sekolah S2 di Jerman jadi tidak diteruskan,” jelasnya.

Latar belakang pendidikan Saif dan istri sangat jauh dari dunia bisnis atau wirausaha. Oleh sebab itu sebelum mendirikan usaha baik Saif dan Nur belajar lebih dalam di perusahaan orangtua Saif bagaimana cara menerima suplier, melayani konsumen, mendata barang, dan lain sebagainya. Dirasa sudah matang, mereka pun bersama-sama membangun usaha yang diberi nama Rayyan tersebut.

Saat ini swalayannya jadi tujuan para pembeli yang mencari alat-alat bangunan dan listrik. Selain murah sistem swalayan lebih diminati konsumen, bersih dan self-service. “Karena sistemnya swalayan, jadi pembeli bisa memilih sendiri barang yang mereka mau dan diberikan banyak pilihan,” ungkap Saif saat ditemui di swalayannya di Jalan Wonocatur, Gedongkuning Jumat lalu (16/2).

Ketika ditanya kiat-kiatnya menjalankan usaha tersebut, Saif mengaku terus melakukan inovasi dan perkembangan yang signifikan. Seperti membandingkan produk-produk dari beberapa pesaingnya, memasang harga murah dari harga pasar, dan selalu menanggapi masukan dari para pelanggan.

“Pelanggan kan sering kasih masukan barang yang belum ada diswalayan tapi banyak yang mencari. Dari sana kita tambahkan lagi produknya untuk memberikan kepuasan pelanggan,” kata dosen matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN SUKA tersebut.

Mengenai hambatannya selama menjalankan usaha tersebut, Saif mengaku harus terus belajar untuk mengembangkan pengetahuaannya dalam dunia wirausaha. Karena menurutnya menjalan usaha bukan karena faktor keturunan, tapi mau belajar dari nol.

Menjadi pengusaha yang sukses pun tidak membuat Saif lantas lupa dengan karyawan-karyawannya. Menurut Saif para karyawan adalah ujung tombak bagi usahanya, oleh sebab itu Saif tak hanya memberikan kompensasi yang cukup, ia juga menganggap ke-9 karyawannya sebagai keluarga sendiri. “Setiap setahun sekali saya mengajak para karyawan dan anggota keluarga piknik bersama,” tambah Saif yang tak mau dianggap bos oleh karyawannya itu.

Tak lupa dalam perbincangan dengan Radar Jogja, Saif memberikan tips untuk anak muda di luar sana yang ingin mendirikan usaha. “Yang paling utama adalah jangan takut memulai, kemudian jangan takut gagal, dan terus melakukan inovasi yang lain dari yang lain. Selain itu menjalankan bisnis harus didasari dengan ketekunan,” tutupnya. (ita/din/mg2)

Ekonomi