RADAR JOGJA – Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji belum bisa menjawab terkait status Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jogjakarta. Seperti diketahui saat ini Jogjakarta masih menyandang status PPKM Level 3. Disisi lain pertambahan kasus harian cenderung melandai dan kondusif.

Pemerintah pusat sendiri mensyaratkan penurunan status PPKM dalam beberapa parameter. Mulai dari kondisi kasus Covid-19 harian hingga capaian vaksin. Inilah yang belum bisa diketahui oleh Pemprov DIJ. Sehingga hingga saat ini masih bertahan dengan PPKM Level 3.

“Tentang perpanjangan PPKM, belum ada undangan (rapat koordinasi daring) sampai sekarang. Biasanya ada,” jelasnya ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Rabu (6/10).

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 Pemprov DIJ, angka bed occupancy rate (BOR) di Jogjakarta masih diatas 15 persen. Untuk BOR rumah sakit rujukan masih 18,02 peresn, BOR isolasi 16,91 persen dan BOR ICU di angka 25,76 persen. Sementara untuk BOR nasional berada di angka 6 persen.

Dari data tersebut jumlah kasus Covid-19 aktif mencapai 1.248 kasus. Terbagi di rumah sakit sebanyak 328 pasien, berada di shelter sebanyak 51 pasien dan menjalani isolasi mandiri ada 902 pasien. Berdasarkan angka ini angka positifity rate di Jogjakarta dalam sepekan terakhir 0,82 persen.

“Upaya menurunkan tetap ada, tapi kan nggak mungkin tambah kamar, buat apa. Caranya ya mengurangi kasus dan menambah kesembuhan, itu kuncinya,” katanya.

Catatan lain adalah capaian vaksinasi di setiap kabupaten kota. Secara umum capaian vaksin di Jogjakarta memang mencapai 83,45 persen. Hanya saja ada 2 kabupaten yang capaiannya masih dibawah 70 persen.

Dari lima wilayah, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul masih di kisaran 60 persen. Tepatnya 66,33 persen untuk Kabupaten Gunungkidul dan 66,47 persen untuk Kabupaten Bantul. Sebagai perbandingan Kota Jogja sudah diatas 100 persen, Kabupaten Sleman 78,03 persen dan Kabupaten Kulonprogo 74,44 persen.

“Sudah dorong kabupaten yang masih kurang, untuk diperbanyak sentra vaksin. Nanti masyarakat datang sendiri ke puskesmas, ini sudah cukup. Fasilitas sudah ada, internet sudah ada, nakes bisa nyambi melayani pasien lain selain vaksinasi, kalau ada massal juga tidak apa bisa kerjasama dengan pihak lain,” ujarnya.

Aji mendorong agar pengampu wilayah mengoptimalkan fungsi puskesmas. Baik puskesmas di tingkat kecamatan maupun puskesmas pembantu. Dapat pula memanfaatkan halaman kantor Kelurahan agar vaksinasi lebih optimal.

“Puksemas ada, puskesmas pembantu juga bisa jadi sentra vaksin. Fasilitas ditempat itu sudah ada, kalau kemudian ada puskesmas yang lokasinya sangat sempit tidak punya halaman bisa geser ke kantor kelurahan,” katanya.

Cara lain dengan memanfaatkan fasilitas mobil vaksin Covid-19. Skemanya dengan melakukan vaksinasi jemput bola. Mendatangi langsung setiap rumah warga. Khususnya yang masuk kategori lanjut usia maupun dengan disabilitas.

Apalagi saat ini ada tim penebalan tenaga kesehatan di setiap wilayah. Perannya bisa digeser untuk mengoptimalkan capaian vaksin. Dengan melakukan penjemputan terhadap lansia atau mendata di setiap wilayah.

“Kalau punya (vaksin) sinopharm lebih mudah, karena 1 vial kan 1 dosis. Kalau vaksin lain kan 10 bahkan 14 dosis untuk 1 vial. Ya ini agar tak buang-buang vaksin saja,” ujarnya. (dwi)

DIJ