RADAR JOGJA – Penentuan jalur tol Jogja-Solo seksi III yang menghubungkan Jogja dengan Bandara YIA dan akan sampai Cilacap, masih terus dibahas. Keputusan itu juga bergantung pada pembahasan yang dilakukan Pemprov DIJ dengan pemerintah pusat.

Sebelumnya ada polemik dalam penentuan trase tol tersebut. Apalagi sejak munculnya kabar bahwa tol itu akan melewati kawasan Padukuhan Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman.

Warga setempat menolak jika trase yang telah ditentukan melintas ke pintu masuk desa. Pasalnya, di lokasi itu banyak terdapat bangunan bersejarah, termasuk cagar budaya. Ada pula beberapa pondok pesantren, makam, hingga panti jompo.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIJ Krido Suprayitno mengatakan, Pemprov DIJ akan melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat. Dalam hal ini Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenko Marives).

Krido menambahkan, trase tol Solo-Jogja-YIA Kulonprogo nantinya akan melintasi dua provinsi, yakni trase di DIJ sepanjang 60,93 kilometer dan trase di Jawa Tengah sepanjang 35,64 kilometer.

Rencananya, tol Solo-Jogja-YIA Kulonprogo terbagi atas tiga seksi, yakni seksi satu dari Kartasura-Purwomartani Sleman (42,37 km). Kemudian seksi dua Purwomartani Sleman-Gamping Sleman (23,42 km), seksi tiga Gamping Sleman-Purworejo Jawa Tengah (30,77 km).

Ia menjelaskan, materi yang akan dibahas dengan Kemenko Marives dalam rapat nanti yakni pemaparan trase terbaru. “Setelah ketemu dan disetujui, nantinya kami sosialisasikan ke masyarakat,” jelas Krido.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Kementerian PUPR Totok Wijayanto mengatakan, selain menambah pengeluaran biaya, perubahan jalur yang tak kunjung selesai ini juga memakan waktu pengerjaan ke depannya.

Sesuai kontrak, pembangunan tol Solo-Jogja-YIA Kulonprogo menggunakan metode design and build (rancang bangun), sehingga dapat mengefisiensi waktu dan juga biaya. Namun setelah ada perubahan trase, desain baru yang tol menjadi elevated (melayang) dan mengalami pergeseran rute sekitar 1,6 Km.

“Dengan adanya perubahan jalur ini sangat memakan waktu. Harusnya tahun ini sudah mulai proses penetapan lokasi, pemberkasan dan lain-lain. Ya, mengganggu sekali karena tim lapangan belum bisa bergerak,” kata Totok.
Desain terkini pun masih belum ditetapkan lantaran semua pihak masih menunggu persetujuan dari Kantor Staf Kepresidenan (KSP). Dengan adanya perubahan desain tol dari at grade menjadi elevated, maka biaya diperkirakan bertambah sekitar Rp 300 miliar.

Sebelumnya, dijelaskan jalan tol Solo-Jogja-YIA Kulonprogo memiliki panjang 96,57 kilometer dengan nilai investasi sebesar Rp 26,6 triliun. Adanya polemik kali ini Totok mengakui langkah pergantian desain memang tidak bisa memuaskan semua pihak. “Sementara ini ya masih menunggu hasil penentuan trasenya,” jelas Totok.

Sementara itu Wakil Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nur Iman Mlangi Muslih Mukhtar mengatakan, pihaknya masih belum mendapatkan informasi atas perkembangan dari perubahan trase tol seksi III itu.

Namun demikian, jika hasil pembahasan antara Pemprov DIJ dan pemerintah pusat sudah turun, pihak yayasan akan mengkaji terlebih dahulu. “Belum bisa menyimpulkan apakah nanti kami akan mengajukan keberatan lagi atau tidak. Akan kami pelajari dulu hasilnya,” jelas Muslih. (kur/laz)

DIJ