RADAR JOGJA – Keraton Jogja menggelar Hajad Dalem Labuhan di Pantai Parangkusumo, Bantul. Dalam rangka memperingati Tingalan Jumenengan Dalem ke-32 Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Rangkaian upacara digelar berkaitan dengan peringatan penobatan atau kenaikan tahta Sultan yang dilangsungkan setahun sekali.

Carik Tepas Nduwara Pura Keraton Jogja menjelaskan, labuhan merupakan bentuk manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di mana Sultan Hamengku Bawono Ka 10 sudah diberi kesehatan selama memangku jabatan selama 32 tahun. Labuhan juga digunakan sebagai sarana memohon kepada Tuhan. “Dengan harapan, semoga dengan labuhan ini, Allah akan memberikan rahmat dan hidayahnya untuk keselamatan, untuk kesejahteraan, (bagi, Red) Ngarso Dalem dan masyarakat,” ucapnya usai upacara Pasrah Panampi Uborampe di Kapanewon Kretek Minggu (14/3).

Oborampe yang dilabuh merupakan agungan Dalem, di antaraya adalah nyamping atau jarik, destar, pengageman, kenoko (kuku), dan ritmo (rambut). Dikatakan, ubarampe merupakan sesuatu yang bersifat tetap atau sesuai pakem. “Yang dilabuhkan barang untuk sarana di mana di dalam labuhan, ubarampe-nya itu. Itu sudah baku,” sebutnya.

Setelah labuhan di Parangkusumo, labuhan selanjutnya akan dilakukan di Gunung Merapi, dan Gunung Lawu hari ini. Lokasi labuhan dinilai sakral. Misalnya Parangkusumo, lokasi ini dipercaya sebagai tempat Panembahan Senopati bertapa, merenung, dan memohon petunjung Tuhan. Dalam salah satu pertapaannya, Panembahan Senopati bertemu dengan penguasa Laut Selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

Sementara itu, Juru Kuci Merapi Mas Wedono Suraksohargo Asihono menjelaskan, untuk labuhan Merapi, ubarampe yang diterimanya, berisi Sinjang Kawung, Sinjang Kawung Kemplang, Semekan Gadung dan Semekan Gadung Mlati, Kampuh Paleng, Desthar Daramuluk, Desthar Udaraga dan Arta Tindih. Usai diserahkan, perlengkapan upacara labuhan akan dibawa ke Kinahrejo, Umbulharjo dan diinapkan di petilasan Mbah Maridjan selama satu malam. “Paginya (15/3) baru dibawa ke atas di Sri Manganti,” lanjutnya.

Masih di masa pandemi Covid-19, nantinya peserta yang ikut naik ke Sri Manganti hanya dibatasi 30 orang. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kerumunan. Selama prosesi serah terima uba rampe, acara juga dilaksanakan dengan protokol kesehatan. Petugas melakukan pengecekan suhu, pemakaian masker, hingga pemberian jarak antar tempat duduk. “Selain itu, pembatasan ini juga karena kondisi aktivitas Gunung Merapi,” bebernya. (eno/fat/pra)

DIJ