RADAR JOGJA – Tanggal 7 Maret kemarin, tepat 32 tahun lalu, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Mangkubumi dinobatkan sebagai raja ke-10 Keraton Kasultanan Jogjakarta dengan gelar Sri Sultan Hemangku Buwono X. Selama masa itu pula, HB X mengemban dua peran sekaligus, yakni sebagai raja dan juga gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).

Setiap tahun pada 7 Maret penanggalan masehi kemudian diperingati sebagai Tingalan Jumenengan Dalem. Atau yang bisa disebut dengan ulang tahun kenaikan takhta Sri Sultan HB X.

Putri sulung Sultan HB X, GKR Mangkubumi menyatakan, keraton memaknai peringatan Tingalan Jumenengan Dalem ini tidak hanya sebagai pertambahan periode kekuasaan semata. “Melainkan juga sebagai penanda bahwa zaman sudah banyak berubah,” katanya kepada Radar Jogja Minggu (7/3).

Menurut Mangkubumi, di zaman kepemimpinan sang ayah, Keraton Jogjakarta senantiasa berupaya untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Seperti yang belakangan ini dilakukan yakni memanfaatkan teknologi yang ada untuk bisa melakukan syiar budaya yang lebih luas. “Geliat maju dari dalam keraton ini, harapannya dapat menjadi semangat untuk membangun DIJ yang semakin sejahtera namun tetap berbudaya,” ujarnya.

Dikatakan, tahun 2021 ini dunia masih menghadapi pandemi Covid-19, termasuk di DIJ. Hal itu membuat rangkaian upacara Tingalan Jumenengan Dalem mengalami banyak penyesuaian. Tentu kaitannya dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) yang bertujuan untuk menekan persebaran virus ini.

“Rangkaian upacara yang harus dilakukan dalam rangka peringatan Tingalan Jumenengan Dalem itu ada ngebluk, ngapem, sugengan, dan labuhan di tiga tempat. Semuanya direncanakan tetap digelar, tentu dengan pembatasan-pembatasan, termasuk siapa saja yang akan terlibat atau bertanggung jawab,” ungkap GKR Mangkubumi yang juga menjabat Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Parwabudaya Keraton Jogjakarta ini.

Lebih lanjut GKR Mangkubumi menjelaskan beragam penyesuaian yang dimaksud. Berkaca dari tahun lalu yang juga sudah memasuki awal pandemi, beberapa kegiatan lebih disederhanakan. Misalnya pelaksanaan Labuhan Lawu. “Biasanya Labuhan Lawu kan dilaksanakan sampai Hargo Dalem, tapi sejak tahun lalu disesuaikan hanya sampai Cemoro Kandang. Meski demikian, ubarampe yang disiapkan beserta prosesnya tetap sama,” ujarnya.

Tak lupa GKR Mangkubumi juga punya harapan khusus terhadap sang ayah tercinta. Ia berharap segala hal yang baik bisa menghampiri Sultan HB X. Yang paling utama adalah ksehatan sehingga Ngarso Dalem dapat menjadi sosok yang Hamengku (melindungi), Hamangku (mengutamakan kepentingan rakyat, lebih banyak memberi daripada menerima), dan Hamengkoni (menguatkan).

“Di samping itu, semoga beliau selalu diberikan tambahan berkah dalam memimpin keraton, keluarga, dan masyarakat DIJ dengan segala dinamikanya,” harap GKR Mangkubumi. (kur/laz)

DIJ