RADAR JOGJA – Jogja kalungan wesi, melekat di zaman Penjajahan Belanda. Dimana Jogja-Bantul pusatnya industri gula dengan pasar ekspor hitugan ton untuk dikirim ke pelabuhan. Dan kereta api menjadi alat transportasi urgensi, yang dibutuhkan pada masa itu.

Berdasarkan data sejarah perkereta-apian yang dihimpun oleh komunitas Roemahtoea. Ketua komunitas Aga Yurista mengungkapkan, awal ijin pembangunan jalur kereta api Jogja – Bantul ini turun pada 1884 melewati Gesikan, Gondanglipuro, Bantul, Barongan, Padokan dan Pundong. Opening jalur Jogja-Srandakan itu 21 Mei 1895 dengan jarak 23 km. Dilanjutkan Srandakan-Brosot, jaraknya 2 km. Menyeberang Sungai Progo atau posisi eks jembatan kereta ada di utara jembatan Srandakan sekarang. Opening jalur ini dibuka 1 April 1915. Lalu lanjut lagi jarak 3 km dari Brosot ke Sewugalur, Kulonprogo. Dibuka 1 April 1916.

Daftar list dari Stasiun Tugu sampai Bantul, melewati Stasiun Ngabean, ada stasiun ada halte. Sebagai tempat pemberhentian. Dilanjutkan ke selatan, halte Dongkelan. Lokasinya di depan Pusat Aneka Satwa dan Tanaman Hias Yogjakarta (PASTY). Lalu ke Stasiun Winongo. “Nah, disini ada jalur khusus untuk masuk ke Pabrik Gula Padokan yang sekarang jadi Pabrik Gula Madukismo,” ungkap Aga, dihubungi kemarin (19/2).

Setelah Stasiun Winongo, ada lagi halte Cepit. Lokasinya di peetigaan lampu merah Cepit. Lalu masuk ke Stasiun Bantul. Lokasinya di selatan Pasar Bantul, setelah PKU Muhammadiyah Bantul. Itu ada jalur khusus ke Pabrik Gula Bantul. Lokasinya di depan RSUD Panembahan Senopati. Kendati begitu, bangunan pabrik kini sudah berganti menjadi perkampungan. Lalu dari Stasiun Bantul, mengarah ke selatan menuju Stasiun Palbapang.

“Stasiun Palbapang ini melayani gula dari Gondanglipuro ada di Timur Gereja Ganjuran, Bambanglipuro. Pabriknya hilang jadi perkampungan,” ucapnya.

Setelah Stasiun Palbapang, ke Barat ada halte Bajang. Lalu halte Batikan, dekat pasar Batikan. Halte Pekojo, halte Mangiran, dekat pasar Mangiran. Kemudian lanjut lagi Stasiun Srandakan. Lokasinya sekarang jadi Puskesmas Srandakan. “Opening 21 Mei 1895 baru sampai Srandakan,” paparnya.

1 April 1915, baru nyebrang ke Brosot. Sekarang kemudian sudah menjadi SMP N 1 Galur. Satu tahun kemudian, ada stasiun Brosot, Pasar Kranggan, terakhir Sewu Galur. Pabirk gula satu-satunya di Kulonprogo.

Pasca agresi militer II Belanda, hampir semua bangunan pabrik gula di Jogja dihancurkan oleh pejuang republik. Termasuk di Padokan. Lalu pada masa HB IX, dibangun kembali pabrik gula Madukismo. Tepat di lokasi yang sama dari pabrik gula sebelumnya. Bahkan, masing menggunakan jalur lori buatan Belanda. “Termasuk jalur kereta api lori yang di Barat Madukismo arah Kasihan, itu masih asli jembatan Belanda,” tuturnya.

Untuk rel kereta api arah timur, seperti Pabrik gula Barongan dan Pundong itu ada jalurnya sendiri. Muaranya sama. Cabangnya dari Stasiun Ngabean.

Nah, pada jaman sekarang, semua kereta api memakai lokomotif diesel, yang mana pada zaman kolonial, kereta api masih memakai lokomotif uap. Mayoritas rel tersebut tertimpa aspal. Bahkan ada yang sudah tertimpa bangunan. (mel/laz)

DIJ