RADAR JOGJA – Jalur kereta api Jogja-Palbapang-Sewugalur dulunya menjadi jalur kereta api yang pernah dioperasikan Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) Inspeksi Jogja. Dulu menghubungkan Stasiun Tugu Jogja dengan Stasiun Palbapang (Bantul).

Manager Humas PT Daop 6 Jogja Supriyanto mengatakan, jalur ini dahulu dilintasi kereta api uap berbahan bakar batu bara yang difungsikan sebagai feeder atau pengumpan, karena menghubungkan Stasiun Palbapang dengan Stasiun Tugu Jogja. “Jalur itu dulu dibangun Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij,” katanya mengutip dari situs wikipedia.

Ia menjelaskan secara rinci jalur kereta api itu diresmikan pada 21 Mei 1895 untuk segmen Jogja–Srandakan dan dilanjut menuju Brosot pada 1 April 1915 dan berakhir di Sewugalur pada 1 April 1916. Namun, untuk lintas Srandakan-Stasiun Sewugalur dioperasikan pada 1915, berdasarkan pengajuan konsesi perusahaan swasta pengelola pabrik gula di Kabupaten Bantul. “Jalur itu juga bagian dari segmen jalur kereta api Jogja-Sewugalur,” ujarnya.

Jalur kereta api yang saat ini statusnya sudah tidak beroperasi itu mulai ditutup pada 1943 silam secara bertahap. Awalnya pada 1943 itu mulai ditutup untuk segmen Palbapang-Sewugalur. Dan dilanjutkan pada 1980-an untuk seluruh segmen. Maka untuk kelanjutannya segmen Palbapang–Sewugalur tidak dilayani kereta api sejak dibongkar oleh pekerja romusa Jepang. “Khusus untuk jalur Jogja–Palbapang, asetnya tidak dikuasai oleh PT KAI,” jelasnya.

Dia menyebut, jalur Jogja-Palbapang asetnya milik Pemkot Jogja khusus untuk emplasemen Stasiun Ngabean dan Stasiun Dongkelan. Sementara menjadi aset PT Madu Baru untuk Stasiun Winongo dan Pemkab Bantul untuk Stasiun Palbapang. “Jalur kereta api ini aslinya menggunakan lebar sepur 1.435 mm, seperti jalur Samarang-Vorstenlanden,” terangnya.

Ditambahkan, pada 1943 itu pekerja romusa Jepang membongkar jalur kereta api untuk segmen Palbapang–Sewugalur lantaran untuk keperluan membangun jalur kereta api romusha dan mengubah jalur segmen Jogja–Palbapang dari semula 1.435 mm menjadi 1.067 mm. “Karena kalah bersaing dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum, PJKA akhirnya menutup jalur ini pada 1973. Meskipun, angkutan tetes tebu dari pabrik gula madukismo masih dijalankan hingga dekade 1980-an,” tambahnya. (wia/laz)

DIJ