RADAR JOGJA – Masa kejayaan jalur kereta api Jogja-Bantul terekam dalam ingatan Subarin. Pria 75 tahun ini menyempatkan waktu ketika Radar Jogja bertandang ke rumahnya, Padukuhan Glondong, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Jumat(19/2). Dia baru pulang mengarit rumput untuk ternak peliharaannya.

Awalnya ayah lima anak ini acuh. Namun kemudian terpantik bercerita saat ditanya bekas bangunan apa di muka rumahnya. “Ini dulu bekas stasiun, jurusan Tugu-Palbapang,” cetusnya cuek, sambil menurunkan tumpukan karung rumput dari atas motornya.

Ya, dulu jalur kereta api Tugu-Bantul memiliki stasiun pemberhentian di muka rumah Subarin. Dinas Kebudayaan Bantul bahkan menetapkan bangunan ini sebagai bangunan cagar budaya yang dikenal dengan Stasiun Winongo. Resminya ditetapkan sejak 31 Desember 2018, sesuai SK Bupati Bantul No 609/2018.

Subarin pun mengungkap, ayahnya dulu pegawai KAI, tepatnya sebagai penjual karcis. “Saya pernah naik (kereta jurusan Jogja-Bantul, Red), wong saya tempatnya di sini. Orang tua saya kali pertama bekerja di sini, namanya Pak Saryoko. Bekerja sebagai penjual karcis,” sebutnya, yang juga mengklaim sang ayah bekerja sejak Indonesia merdeka sampai Stasiun Winongo berhenti beroperasi.

Namun, Subarin tidak ingat, tepatnya Stasiun Winongo berhenti beroperasi. Diperkirakan sekitar tahun 1970-an. Alasan penutupannya pun ia lupa. Hanya seingatnya, karena stasiun dipindah ke Sukoharjo, Jawa Tengah. “Sekitar tahun 1970-an berhenti. Jalur sudah ada sejak zaman Belanda. Awalnya kereta api pakai uap, terus tahun berapa sempat pakai diesel di tahun 1970-an,” ungkapnya.

Pria yang kini hanya tinggal berdua bersama istri itu menuturkan, terdapat tiga jalur rel di Stasiun Winongo. Satu menghubungkan Tugu-Bantul dengan jalur Tugu-Ngabean-Dongkelan-Winongo-Cepit-Bantul-Palbapang. Satu jalur untuk parkir kereta yang menuju Madukismo. Satu jalur lagi merupakan penyimpan gerbong. “Cukup besar ini dulu (Stasiun Winongo, Red), jalur teleponnya saja masih ada, itu ada dua,” tunjuknya pada dua tiang besi yang terpisah sekitar 10 meter dan berada di barat stasiun.

Berpindah, Subarin membuka bangunan bekas Stasiun Winongo. “Ini posisinya sekarang terbalik, harusnya bagian depannya sini. Di sini tempat bapak saya jual karcisnya,” ujarnya, saat membuka jendela.

Sementara itu, salah seorang warga Mantrijeron, Kota Jogja, Bagus Kurniawan mengaku menjadi salah satu penikmat kereta api jalur Ngabean-Palbapang. Pria 51 tahun ini terakhir menaiki kereta api itu pada 1977. Ketika hendak ke rumah neneknya di Pandak.

Menurutnya, awal pembuatan jalur kereta api itu hanya untuk mengangkut gula. Namun kurangnya ketersediaan alat transportasi, maka diaktifkan sebagai kereta penumpang. Ini sebagai selingan kereta pengangkut gula. Kereta penumpang beroperasi hanya dua kali dalam satu hari, pagi dan sore hari. “Mayoritas penumpangnya pedagang pasar yang hendak berjualan di Pasar Bringharjo,” ungkap Bagus Jumat (19/2).

Yang teringat di benaknya, kereta pengangukut penumpang itu terdiri atas empat sampai lima gerbong. Bentuk suasana dalam kereta sama dengan sekarang. Penumpangnya tak terlalu berkerumun. Tak ada yang sampai menumpang di loko atau kepala kereta.
“Lokonya kecil seperti yang ada di Benteng Vredeburg itu. Lambat laun tidak beroperasi karena sudah banyak kendaraan, bus, dan lain-lain,” ungkas Bagus. (fat/mel/laz)

DIJ