RADAR JOGJA – Dalam beberapa hari terakhir curah hujan di DIJ cukup tinggi. Hal itu rupanya membuat beberapa wilayah, terutama di Kabupaten Bantul dan Kulonprogo mengalami banjir. Ada pula beberapa wilayah yang terdampak angin kencang saat hujan lebat itu.

Pemprov DIJ mencoba mengantisipasi sinyal peringatan dini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait banjir dan bencana lain di beberapa wilayah di DIJ. Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji menjelaskan, saat ini BPBD DIJ telah berkoordinasi untuk menyikapi peringatan bahaya banjir di Pulau Jawa.

Sejumlah langkah pun dilakukan. Di antaranya memasang bronjong untuk mengontrol luapan air, hingga menyediakan tempat evakuasi warga, dan logistik bilamana bencana banjir benar benar terjadi.

“Kami antisipasi untuk menyediakan bronjong, seandainya memang terjadi banjir bagaimana evakuasi dan permakanan juga disiapkan. Jika ada rumah yang akan ditinggalkan penduduk, nanti kan harus tinggal di hunian sementara,” terangnya saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Jogja, Kamis (18/2).

Selain itu, upaya normalisasi sungai dan anak-anak sungai juga terus dilakukan sebagai langkah pencegahan. Terutama di sungai-sungai besar seperti Progo dan Winongo. “Harapannya saat musim penghujan sebagian besar sungai sudah normal untuk mencegah banjir,” tambahnya.

Aji memastikan anggaran untuk menghadapi bencana telah disiapkan. Alokasinya berasal dari dana Belanja Tak Terduga (BTT). Di tahun anggaran 2021 ini, nilai BTT yang dianggarkan sekitar Rp 66 miliar.

“Anggaran khusus BTT juga untuk bencana di luar Covid-19. BTT itu kan ada yang untuk penanganan rutin. Maksud saya rutin untuk Covid-19 yang paling banyak. Tapi untuk kejadian-kejadian di luar itu juga harus ada,” tambahnya.
Jika nanti dana yang tersedia tak mencukupi, Pemprov DIJ juga bisa memanfaatkan dana kebencanaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Terkait pemetaan daerah rawan, persebarannya tak mengalami perubahan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Hingga saat ini diketahui ada 17 kecamatan di DIJ dengan risiko bencana menengah tinggi. Mayoritas didominasi bencana hidrometeorologi. “Sama dengan dulu-dulu ya. Misalnya di daerah Imogiri. BPBD juga sudah menerjunkan petugas untuk bisa memantau potensi bencana secara dini,” tandas pria kelahiran Bantul ini. (kur/laz)

DIJ