RADAR JOGJA – Tingkat partisipasi warga dalam Pilkada 2020 menurun. Terpengaruh oleh pandemi Covid-19. Salah satu indikasinya banyaknya sisa surat suara di TPS.

Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bantul Harlina menyebut, terkait tahapan pemungutan suara 9 Desember 2020 pihaknya memiliki catatan pengawasan, partisipasi pemilih memang mengalami penurunan.

Kendati begitu, Harlina tidak dapat menyebut angka penurunan dengan pasti. Prediksi penurunan hanya berdasar pemantauan di lapangan. Sebab rekapitulasi penghitungan suara baru sampai di tingkat kapanewon. Belum sampai ke kabupaten. “Kami belum tahu angka penurunannya berapa. Saya tidak membandingkan dengan (pemilu, Red) sebelumnya, tapi partisipasi pandemi mempengaruhi proses,” ujarnya Minggu (11/12).

Dikatakan, ada daftar pemilih tetap (DPT) yang enggan menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Seperti DPT yang justru memilih pulang, ketika diwajibkan menggunakan sarung tangan. Selain itu, ada pula DPT yang enggan ke tempat pemungutan suara (TPS) karena takut. “Ada yang malas ke TPS karena takut penularan Covid-19,” paparnya.

Senada, Ketua Divisi Partisipasi Masyarakat Dan SDM KPU Bantul, Musnif Istiqomah belum dapat menyebut angka pasti partisipasi warga Bantul dalam Pilkada 2020. Sebab rekapitulasi data di KPU Bantul akan dilakukan mulai Senin (14/12). “Kalau sudah rekap di kabupaten, baru bisa dilihat partisipasi tingkat kabupatennya,” ujarnya.

Hal yang sama terjadi di Sleman. Bawaslu Sleman menyebut, tingkat partisipasi masyarakat dalam Pilkada Serentak yang digelar pada 9 Desember lalu tidak begitu maksimal. Bahkan tingkat partisipasi lebih rendah dari 2019 lalu. Hal itu dilihat dari logistik yang tersisa di TPS.  ”Jika 2019 lalu di beberapa TPS kekurangan logistik sepeti surat suara yang kurang, kali ini justru terbalik. Banyak lebihnya,” ungkap Koordinator Divisi Hukum Bawaslu Kabupaten Sleman Arjuna Al Ichsan Siregar.

Disebutkan, berdasarkan prediksi tingkat partisipasi Pilkada kali ini hanya menyentuh 70 persen saja. Ya, prosentase itu lebih rendah dibandingkan dengan Pemilu Serentak 2019 yang menyentuh angka 87,7 persen. Dikatakan, tingkat partisipasi masyarakat memilih pada 2019 ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan pemilu 2014 lalu. Yakni, berkisar 81 persen.
Arjuna menyebut, faktor pandemi covid-19 inilah yang menyebabkan angka partisipasi menurun di bawah target yaitu 80 persen.

Ketua Bawaslu Sleman M. Abdul Karim Mustofa menambahkan, hasil penelusuran Bawaslu pada Pikada saat ini terkonfirmasi adanya surat suara yang gugur karena kesalahan dalam mencoblos. Ada yang tercoblos ganda karena saat mencoblos surat suara terlipat. Ada yang tidak tercoblos, dan ada yang surat suara dobel.”Pemilih nyoblos tembus. Jadi dua kali mencoblos. Kemudian disampaikan ke KPPS yang satu dianggap tidak sah yang satu dimasukkan dalam kotak,” katanya.

Demikian juga ada yang salah saat menggunakan bilik. Beberapa pengawas mendapati pemilih menuju bilik khusus yang seyogyanya digunakan untuk pasien dengan suhu di atas 37 derajat celcius. ”Ada pula pemilih yang tak mengenakan masker, tapi langsung ditegur dan terkondisikan,” katanya. (fat/mel/pra)

DIJ