RADAR JOGJA – Dampak bencana hidrometeorologi yang ditimbulkan dari fenomena La Nina mulai dirasakan. Hujan deras dan longsor memaksa satu KK di Dusun Plampang II, RT 62 RW 19, Kalurahan Kalirejo, Kapanewon Kokap, Kulonprogo mengungsi. Di Gunungkidul, satu orang tewas tertimpa ranting pohon yang tumbang.

Satu kepala keluarga (KK) di Kokap, yang terdiri dari lima orang terpaksa mengungsi, setelah rumahnya rata tanah diterjang longsor, Selasa (27/10) dini hari. Beruntung, lima jiwa dalam satu keluarga berhasil selamat dari musibah tersebut.

Pemilik rumah Kusnan mengungkapkan, bencana longsor terjadi sekitar pukul 04.30, saat kejadian dirinya sudah tertidur, hingga akhirnya terbangun karena mendengar suara gemuruh dari belakang rumah. “Tebing setinggi 60 meter di belakang rumah longsor,” ungkapnya, Selasa (27/10).

Begitu sadar telah terjadi longsor, Kusnan langsung membangunkan istri juga anaknya untuk menyelamatkan diri keluar rumah. Kusnan sempat panik, sebab material tanah ternyata sempat menhadang pintu dan membuat keluarganya tertahan di dalam rumah. Hingga akhirnya Kusnan memutuskan untuk mengajak anak dan istrinya meloncat keluar lewat jendela. Malam sebelum kejadian, hujan lebat melanda wilayah Kalirejo. Kusnan sudah memiliki firasat, tebing di belakang rumah longsor. “Awalnya tidak ada tanda-tanda, hanya saya melihat kerikil dari atas tebing itu berjatuhan, ternyata benar kejadiannya seperti ini,” jelasnya sambil menyebut kerugian ditaksir mencapai Rp 150 juta.

Tak hanya longsor, fenomena La Nina juga dirasakan warga di dataran rendah selatan, yaitu banjir yang merendam lahan pertanian milik warga. Sejumlah petani cabai di Kelurahan Palihan, Kapanewon Temon dan Kelurahan Kedundang, Kapanewon Wates bahkan harus melakukan panen dini untuk menghidari kerugian lebih banyak.

Petani cabai, Suwoto, 58,  warga Palihan, Kapanewon Temon mengatakan, hujan semalam membuat air melimpas ke sawah dan merendam 2000 tanaman cabai keriting yang dibudidayakannya. Tanaman cabai itu berumur 2,5 bulan dan tinggal menunggu 10 hari lagi untuk dipanen.”Namanya alam manusia tidak bisa berbuat apa-apa mas, tanaman cabai saya terendam air dan haru saya panen secepatnya untuk meminimlaisir kerugian, saya rugi sekitar Rp 3 juta, ya saya cabut dan saya petik, karena kalau tidak cepat cabai busuk semua,” katanya, Selasa  (27/10).

Wakil Bupati Kulonprogo, Fajar Gegana saat meninjau lokasi bencana di Plampang II menyatakan, secepatnya pemkab akan memberikan bantuan kepada korban sehingga bisa menempati hunian baru entah itu di lokasi yang sama atau di tempat lain. Bersama BPBD akan dilakukan kajian, apakah lokasi longsoran maih laik ditempati atau harus relokasi.

Di Gunungkidul, seorang pengendara sepeda motor tewas mengenaskan akibat tertimpa ranting pohon tumbang. KapolsekPonjong, Kompol Sudono mengatakan, korban diketahui bernama Harun,75, warga Padukuhan Pati, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong. Peristiwa nahas berlangsung Selasa (27/10) siang sekitar pukul 11.30.

Hasil olah TKP, ranting pohon jatuh mengenai bagian kepala korban. Berdasarkan keterangan saksi-saksi di lokasi, kondisi korban tergelak dengan posisi setengah tengkurap. Benturan benda keras mengakibatkan luka serius pada bagian kepala. Pasca-kejadian pihaknya mengimbau masyarakat agar lebih hati-hati dalamberkendara, terutama saat musim penghujan seperti sekarang. Selama ini kasuspohon tumbang di tengah jalan tidak hanya sekali dua kali.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, Edy Basuki mengingatkan adanya potensi bencana di tengah musim penghujan. Gerakan pemangkasan ranting pohon menjadi sangat mendesak dilakukan supaya tidak roboh ketika hujan.“Banyak kejadian, pohon tumbang menimpa bangunan rumah, menutup akses jalan,” kata Edy Basuki.

Tak hanya itu. Di Bumi Handayani, hujan semalaman di wilayah Kalurahan Giriasih, Kapanewon Purwosari memicu banjir genangan. Sejumlah bangunan dilaporkan terdendam, bahkan satu keluarga sempat mengungsi. Tidak ada korban luka maupun jiwa dalam peristiwa tersebut. Data BPBD Gunungkidul, titik genangan ada di sekitar komplek Balai Desa Giriasih pada Selasa (27/10) dini hari. Dalam kejadian tersebut sekitar balai kalurahan dan kantor UPT TK/SD tergenang hingga kedalaman 50 cm. Tidak hanya itu, dua rumah juga terendam hingga 30 cm.

Koordinator Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Gunungkidul, Surisdiyanto menjelaskan, luapan air berasal dari penyumbatan luweng atau gua vertikal akibat tumpukan sampah. Hujan mengguyur sejak pukul 18.00 dan baru berhenti pada pukul 1.00. “Wilayah yang tergenang karena berada di cekungan sehingga air dari berbagai sisi masuk ke lokasi tergenang,” ujarnya.

Kata Suris, sebelum air hujan meluber kemana-mana warga sudah mengetahui sehingga sudah persiapan. Potensi banjir genangan selain luweng tersumbat juga dipicu buruknya saluran drainase. “Jadi, wilayah ini memang jadi langganan banjir genangan ketika hujan deras dan durasi panjang,” ungkapnya.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Gunungkidul Agus Wibawa mengatakan, wilayahnya ada 10 kapanewon berpotensi terkena bencana hidrometeorologi. Meliputi longsor, banjir genangan, dan potensi banjir dari luapan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan aliran utama Sungai Oya.”Titik longsor terutama rawan terjadi di Zona Batur Agung,” kata Agus Wibawa.

Zona ini meliputi Kapanewon Patuk, Gedangsari, Nglipar, Ngawen, dan Semin. Sedangkan banjir dari luapan Sungai Oya berpotensi terjadi di Semin, Ngawen, Patuk, Playen, dan Panggang. Untuk banjir genangan, terdiri dari Kapanewon Wonosari, Semanu, Karangmojo, dan Playen.

Di kabupaten di barat DIJ, hujan juga mengakibatkan beberapa desa di Kecamatan Kemiri dan Pituruh mengalami bencana banjir dan tanah longsor. Tercatat ada dua gelombang hujan cukup lebat yang terjadi pada Minggu (25/10) malam dan Senin (26/10) malam.

“Cukup banyak yang terdampak akibat bencana di awal musim penghujan ini,” kata Sekda Purworejo Said Romadhon saat melakukan pemantauan, Selasa (27/10). Pihaknya langsung turun ke lapangan untuk memberikan bantuan yang dibutuhkan oleh warga. Setidaknya warga terdampak langsung diberikan bantuan logistik.”Ada bantuan lain nanti yang akan diberikan karena akan diinvetarisir dahulu kerusakan yang ada,” imbuh Said.

Secara khusus, Said meminta agar kecamatan dan instansi terkait juga melakukan penanganan cepat dalam penanggulangan bencana. Hal yang menjadi perhatian adalah pembukaan akses transportasi yang terputus. “Akses transportasi harus diutamakan. Dan untuk warga terdampak yang rumahnya tidak bisa dihuni lagi, segera carikan tempat untuk mengungsi,” katanya.

Kepala Pelaksana BPBD Purworejo Sutrisno mengatakan, jika rumah yang terdampak bencana longsor ada 10 rumah dan 1 rumah tertimpa pohon. Sementara untuk banjir memunculkan genangan setinggi sekitar 50 sentimeter. “Ada beberapa akses jalan yang terputus karena tanah longsor. Tim sudah bergerak melakukan gerak cepat agar jalan bisa digunakan lagi,” kata Sutrisno. (tom/gun/udi/pra)

DIJ